Home » Gerbang Polri » Basmi Terorisme dan Radikalisme di Kaltim dan Kaltara
Ilustrasi: Tim Gegana berlatih menjinakkan bom.(ist)

Basmi Terorisme dan Radikalisme di Kaltim dan Kaltara

MASIH segar di ingatan kita teror “Bom Molotov” yang terjadi pada hari Minggu tanggal 13 November 2016 sekitar jam 10.15 Wita di halaman Gereja Oikumene jalan Cipto Mangunkusumo Rt.03 No.32 Kelurahan Sengkotek Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda dimana sebagian jemaat Gereja sedang beribadah, sedangkan sebagian lainnya berada di area parkir. Menyedihkan, karena anak-anak menjadi korban jiwa maupun luka-luka. Tercatat 1 anak meninggal dunia dan 3 anak lainnya luka-luka.

Setelah melakukan aksinya, pelaku langsung kabur dan terjun ke Sungai Mahakam. Beruntung, warga banyak di sekitar lokasi langsung mengejar dan menangkap pelaku yang memakai kaos hitam bertuliskan “JIHAD” sebelum akhirnya menyerahkannya ke Polisi. Diketahui pelakunya adalah Juhanda bin Juharta lahir di Ciniru Kabupaten Kuningan tanggal 12 AGUSTUS 1983, bekerja sebagai Marbot di Mesjid Al Mujahidin Jalan Cipto Mangunkusumo Rt.04 Kelurahan Sengkotek Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda.

Fakta lainnya bahwa pelaku adalah mantan narapidana kasus teror Bom Puspitek Serpong kelompok Pepy Vernando. Ada beberapa barang bukti yang diamankan Polisi yaitu 1 lembar bendera lambang ISIS, 1 buah topi bertuliskan Islamic State, 1 buah busur beserta 39 buah anak panah, 2 buah jirigen kosong, 1 buah jirigen berisi bensin, 1 buah kaleng berisi paku, 1 bungkus karbit, 1 kardus berisi keramik, 1 buah tas warna biru, 1 buah tas koper berisi pakaian, 2 buah hp Nokia, 1 buah hp merk Imo, 1 buah hp merk Maxtron, 1 buah buku berjudul malaikat tak bersayap, 1 buah buku berjudul Riyadus Solihin, 1 buah buku berjudul Sakti Team Hacking, 1 buah kaleng cat, 1 lembar jaket Levis.

Hasil kerja keras Kepolisian Negara Republik Indonesia patut diapresiasi karena 6 (enam) orang pelaku lainnya yang terkait teror bom tersebut bisa ditangkap, yaitu Supardi bin Safar, Rahmad bin Abdul Muis, Ahmad Dani alias Dani, Gusti Adam PR bin Joko, Joko dan Rido.

Terorisme dan Radikalisme yang Pernah Terjadi

Teror Bom di Gereja Oikumene Samarinda bukanlah yang pertama kali terjadi di Kalimantan Timur. Sebelumnya tercatat ada 5 (lima) kejadian yang sama diantaranya :

  • di Hotel Pasifik Balikpapan hari Jumat tanggal 27 Januari 2012
  • ditujukan kepada seseorang di Samarinda Ulu hari Senin tanggal 28 Maret 2011
  • di Kantor PT. Buana Express Logistik (Jasa Pengiriman Cargo) Jalan Pulau Kalimantan No. 11 Samarinda hari Senin tanggal 19 Januari 2009
  • di Hotel Singgasana Tenggarong hari Senin tanggal 16 Maret 2009
  • di pesawat Kalstar hari Sabtu tanggal 1 Februari 2007

Selain teror Bom, penangkapan pelaku kasus Terorisme juga pernah terjadi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, antara lain :

  • 15 Januari 2016, penangkapan Fajrun di Perumahan PT. Her 1 Jl Sepinggan Baru II (Jl Swadaya I) RT 59 No. 24 Kelurahan Sepinggan Baru terkait dengan aksi pengeboman di Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat.
  • 13 Maret 2013, penangkapan 3 orang laki-laki yang mencurigakan di depan halaman kantor Polres Tarakan karena sedang mengamati personil Polres Tarakan yang sedang melaksanakan apel pagi.
  • 29 Januari 2012, penangkapan Fajarudin di sebuah kos-kosan Jl Jenderal Sudirman terkait kasus pengancaman Hotel Pacific (bintang tiga) di Jl Jenderal A. Yani No 33 Balikpapan.
  • 11 Juni 2011, penangkapan Juwardi di Jl Mulawarman RT 09 Kelurahan Loa Duri Ilir terkait kasus Terorisme di Palu Sulawesi Tengah.
  • 9 Mei 2009, penangkapan Abu Zar alias Kismaninda alias Husain alias Udin di Toko Yazid Jaya terkait penyerangan pos Brimob di Desa Loki Kabupaten Seram Bagian Barat 16 Mei 2005.
  • 17 Maret 2009, penangkapan Purwanto bin Gito Suwono alias Gudel di Jl Ujang Dewa Gg. Limau Kelurahan Nunukan Selatan Kabupaten Nunukan yang berperan sebagai pelaku teror bom di Hotel Singgasana Kecamatan Tenggarong.
  • 9 November 2008, penangkapan Hapi Jani alias Upik di Jl RA Kartini RT 02/04 Kelurahan Tanah Grogot Kecamatan Tanah Grogot Kabupaten Paser terkait ancaman teror Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Australia di Jakarta.
  • 13 Januari 2003, penangkapan Ali Imron di tempat persembunyiannya di Pulau Tanjung Berukang Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara.

Di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara terdeteksi ada kelompok yang terindikasi memiliki ajaran radikalisme karena mendukung ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), sebuah organisasi baru di Timur Tengah yang ingin mendirikan Negara Islam Irak dan Suriah. Berdasarkan pemetaan kelompok tersebut di Kabupaten maupun Kota yang ada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, diperoleh hasil sebagai berikut :

  • Wilayah Tarakan : 1 kelompok (Pondok Pesantren)
  • Wilayah Samarinda : 6 kelompok (3 Mesjid, 1 Pondok Pesantren, 1 Yayasan dan 1 Ormas)
  • Wilayah Balikpapan : 6 kelompok (3 Ormas, 1 Pondok Pesantren, 1 Simpatisan JAT dan 1 Simpatisan Bom Bali
  • Wilayah PPU : 4 kelompok (4 Aliran)
  • Wilayah Paser : 2 kelompok (1 Ormas dan 1 Aliran)
  • Wilayah Kubar : 3 kelompok (2 Aliran dan 1 Ormas)
  • Wilayah Bontang : 1 kelompok (1 Ormas)
  • Wilayah Kutim : 2 kelompok (1 Ormas dan 1 Aliran)
  • Wilayah Kukar : 2 kelompok (2 Pondok Pesantren)

Apa Yang Dimaksud dengan Terorisme dan Radikalisme

Kata “Terorisme” dan “Radikalisme” sudah sangat akrab pada kebanyakan orang karena sering dijumpai di media cetak, media elektronik, media online bahkan media sosial. Namun supaya lebih jelas, kita wajib mengenali dan memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan terorisme dan radikalisme.

Kata Terorisme sendiri berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah.

T.P.Thornton dalam Terror as a Weapon of Political Agitation (1964) mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk mempengaruhi kebijakan dan tingkah laku politik dengan cara-cara ekstra normal, khususnya dengan penggunaan kekerasan dan ancaman kekerasan. Terorisme dapat dibedakan menjadi dua katagori, yaitu Enforcement Terror yang dijalankan penguasa untuk menindas tantangan terhadap kekuasaan mereka, dan Agitational Terror yakni teror yang dilakukan menggangu tatanan yang mapan untuk kemudian menguasai tatanan politik tertentu. Jadi sudah barang tentu dalam hal ini, terorisme selalu berkaitan erat dengan kondisi politik yang sedang berlaku.

Menurut Konvensi PBB tahun 1937, terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas.

Menurut Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003, yang dimaksud dengan tindak pidana Terorisme adalah setiap tindakan dari seseorang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional.

Sedangkan kata Radikalisme berasal dari kata radical yang berarti “sama sekali” atau sampai ke akar-akarnya. Dalam kamus Inggris Indonesia susunan Surawan Martinus kata radical disamaartikan (synonym) dengan kata “fundamentalis” dan “extreme”. Radikalisme yaitu suatu paham sosial/politik yang dalam usaha mencapai tujuannya menggunakan cara-cara kekerasan. Secara etimologis, radikalisme berasal dari kata radix, yang berarti akar. Di masa penjajahan Belanda, istilah “radikal” bermakna positif. Adnan Buyung Nasution menulis dalam disertasinya di Utrecht Belanda bahwa pada 1918 di Indonesia dibentuk apa yang disebut sebagai “Radicale Concentratie” yang terdiri dari Budi Oetomo, Sarikat Islam dan lain-lain. Tujuan dibentuknya kelompok-kelompok ini untuk membentuk parlemen yang terdiri atas wakil-wakil yang dipilih dari kalangan rakyat. Dapat disimpulkan bahwa radikalisme adalah suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrem.

Basmi Terorisme dan Radikalisme

Paham terorisme dan radikalisme harus dibasmi pengajaran dan penyebarannya di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Membasmi pengajaran dan penyebarannya tidak bisa dilakukan oleh Polda Kaltim saja, akan tetapi harus bersinergi dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Propinsi Kalimantan Utara dan Kodam VI Mulawarman beserta masyarakat secara aktif dan berkesinambungan. Dalam mengimplementasikannya secara konkrit, BASMI yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  • Berikan dan ajarkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, Ilmu Pengetahuan baik Ilmu Akademis maupun Ilmu Agama yang benar agar masyarakat mendapatkan pendidikan dan pengetahuan sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kedua paham tersebut
  • Awasi para mantan narapidana kasus teror bom terutama yang berada di Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Utara, yang menurut data Intelijen ada 9 orang, sehingga tidak ada lagi ‘para mantan’ tersebut mengulangi aksinya di kemudian hari.
  • Sejahterakan para mantan narapidana kasus teror bom yang berada di Provinsi Kalimantan Timur dan Propinsi Kalimantan Utara dan masyarakat lainnya yang berpenghasilan rendah agar meminimalisir kesenjangan sosial yang biasanya memicu masuknya paham terorisme dan radikalisme
  • Menjaga persatuan dan kesatuan di Provinsi Kalimantan Timur dan Propinsi Kalimantan Utara dengan meningkatkan sikap toleransi antara satu dengan yang lainnya karena kedua provinsi ini penuh dengan keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).
  • Informasikan setiap hal yang diperoleh dari internet, selebaran, media konvensional, media sosial, media elektronik, media cetak, media online maupun seorang teman sekalipun dengan bijak dan benar dan hindari penyebaran berita bohong.

(triwidodo/triwidodo@gerbangkaltim.com)

* Dari berbagai Sumber

Penulis: jurnalis di Balikpapan

Check Also

Kodim Grogot Inisiasi Pembentukan Posko Terpadu Karhutla 

Kodim 0904 Tanah Grogot menginisiasi pembentukan posko terpadu penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan ...

One comment

  1. Bravo utk Polri !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *