Home » CSR Migas Menjadi Sampah Berubah Jadi Kompos

CSR Migas Menjadi Sampah Berubah Jadi Kompos

 

 

Proses Pengolahan Sampah
Proses Pengolahan Sampah di rumah Kompos

BALIKPAPAN—Membicarakan judul diatas awalnya banyak rekan yang ikut mengkritisi, karena banyak yang menganggap judul tadi memojokkan  perusahaan Migas yang memberikan dana CSR (Corporate Social Responsibility) menjadi sampah kepada masyarakat tetapi mereka berusaha untuk mengolah limbah untuk menjadi uang, apa mungkin? Jawabannya mungkin ya, mungkin juga tidak. Karena telah banyak kita mendengar bantuan kepada masyarakat akhirnya menjadi sampah yang teronggok tanpa berguna, bahkan menjadi konflik kepentingan antar masyarakat, namun kenyataan itu bisa berubah 180 derajat menjadi sebuah kemakmuran.

 

Berkendara di jalan beraspal daerah Kelurahan Prapatan dalam yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Telagasari di Kecamatan Balikpapan Selatan, masih terlihat wilayah yang berbukit di kiri kanan jalan namun sudah sebagian di penuhi rumah. Jika sepintas tidak terlihat tanda-tanda bahwa wilayah ini menjadi tempat percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Apalagi sejak tahun 2003 lalu RT 01 Telagasari dan RT 36 Prapatan telahmenjadi pilot project pengembangan pengelolaan sampah berbasis masyarakat skala RT (rumah tangga) yang pernah didanai oleh perusahaan migas Chevron Indonesia Company dan berbatasan langsung dengan area kerjanya. Program pengelolaan sampah di wilayah ini membuat tidak ada sampah di kiri dan kanan jalan. Bahkan tempat sampah yang ada di sepanjang jalan ini tidak terlihat dipenuhi oleh sampah. Kemanakah sampah ini menghilang, sebuah pertanyaan menjadi mengemuka. Apakah warga setempat sudah tidak menghasilkan sampah, ataukah karena kesadaran mereka sehingga sampah tidak di buang di tong sampah, tetapi diolah sedemikian rupa hingga menjadi beragam hasil.

Pertanyaan itu sedikit terjawab saat menghampiri seorang ibu yang terlihat mengumpulkan  hasil sampah rumah tangga yang dihasilkannya seperti bekas sayuran, daun, hingga buah-buahan yang telah membusuk.

“Sudah lumayan mas kita melakukan ini, dulunya waktu di kelurahan Telagasari saat saya masih jadi RT kita mengolah sampah ini, mulai dari memotong-motong hingga kecil, lalu mencampurkan dengan biang, yaitu bahan pembusuk sampah yang semuanya di kerjakan secara manual,” ujar ibu Tin, warga RT 36 Kelurahan Prapatan.

Mungkin itu cerita beberapa tahun lalu, karena saat ini pengolahan sampah berbasis rumah tangga tidak dilakukan ibu-ibu lagi, namun oleh warga masyarakat yang telah diupah dengan tugas mengolah sampah-sampah masyarakat ini.

Menurut Herman, salah satu petugas rumah Kompos dari Yayasan PEDULI (Pengembangan Ekonomi, Daur Ulang, dan Lingkungan) yang dibangun atas kerjasama Pemkot Balikpapan, PT Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) V, BP Migas Chevron Indonesia Company pada tahun 2007, saat ini rumah kompos mampu mengolah sampah rumah tangga dari 7 RT yang berdekatan langsung.

“Jadi warga di tujuh wilayah RT ini, diharuskan memilah-milah sampah sebelum dibuang ke dalam tong sampah yang dibagi dua, yaitu sampah basah dan kering, RT tersebut adalah 34, 35, dan 36 Kelurahan Prapatan dan RT 2, 3, 4 dan 44 Kelurahan Telagasari,” jelasnya.

Dalam sebulan dirinya bersama dua rekan lainnya, mengumpulkan sampah-sampah tersebut mencapai 4-5 ton, dan setelah dilakukan pengolahan melalui proses dihasilkan sekitar 1-2 ton kompos.

“Jumlah sebanyak ini, lalu dibungkus dalam kemasan 1 kilogram yang dijual seharga Rp 2500, sebagian di beli oleh DKPP, sebagian dititipkan ke took tanaman dan juga ada yang dibeli warga langsung,” jelasnya. Bentuk konpensasi kepada masyarakat yang membuang sampahnya kepada masyarakat dihargai Rp100 perkilogramnya, dan untuk pembayarannya dilakukan tiap tiga bulan sekali. “Kami tidak memberikan dana langsung pada warga, tetapi mereka disuruh memilih, apakah ingin dalam bentuk pupuk kompos yang telah jadi, pot tanaman, atau bibit tanaman, nantinya merekalah yang mengembangkannya sendiri, misalnya dijadikan bibit tanaman bunga yang dijual pada masyarakat lain,” papar Herman sambil menjelaskan pula proses pengolahan sampah hingga menjadi kompos.

Proses pembuatan kompos dari sampah rumah tangga dimulai dari pengambilan sampah di wilayah lingkungan RT-RT tersebut, lalu setelah sampah basah itu terkumpul kemudian di pilah-pilah lagi, sehingga benar-benar terpisah sampah basahnya. “Sedangkan sampah yang tidak bisa diolah kembali dikumpulkan lalu dibuang di TPS (tempat pembuangan sementara).

“Setelah bahan sampah organik terkumpul, kemudian dihaluskan dengan mesin penghancur lalu setelah itu dicampur dengan biang, yaitu bahan yang mempercepat pembusukan sampah, diaduk, hingga rata, kemudian ditempat di bak-bak penampungan, lalu ditutup dengan alas keset tebal dari ijuk kelapa selama empat hari,” jelas Herman. Kemudian setelah empat hari, bahan kompos tadi lalu didinginkan, karena proses pembusukan sampah menghasilkan uap panas, sehinggga harus diangin-anginkan, setelah dingin kemudian diayak agar menjadi kompos yang siap untuk dijual.

Sementara itu menurut Ketua Yayasan Peduli, Anthos Padmawijaya, kegiatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat itu dimulai pada tahun 2003 yaitu pengelolaan sampah percontohan di dua RT yaitu RT 01 Telagasari dan RT 36 Kelurahan Prapatan.

Pihak yayasan Peduli menjadi mitra kerja  Chevron Indonesia Company yang merupakan lembaga pendamping serta diakui kemampuannya dalam program pengelolaan sampah. Kegiatan yang dimulai dengan sosialisasi kepada warga di dua RT tersebut sehingga membuat masyarakat menyadari akan arti pentingnya pengelolaan sampah yang memberdayakan mereka di bidang ekonomi dan lingkungan. Program kerjasama dengan pihak Chevron berlangsung hingga tahun 2007 yang ditandai dengan pembangunan rumah kompos di RT 35 Kelurahan Prapatan.

“Dana yang dibutuhkan untuk sosialisasi dan pembangunan rumah kompos ini sekitar Rp 200 jutaan, semua didukung oleh BP Migas melalui Chevron, Pertamina UP V (sekarang RU V,red), serta Pemkot Balikpapan,” tambahnya.

Bahkan Total E &P Indonesie sempat ikut pula menginisiasi program pelatihan bersama Chevron dan BP Migas di tahun 2007, namun saat pembangunan rumah kompos, Total tidak ikut serta karena menganggap lokasi tidak berada dekat pada daerah kerja Total.

“Untuk program 2007-2008, kami terus mendampingi dan memberikan pelatihan kepada warga dengan memperkuat kader lingkungan yang ada di tiap-tiap wilayah,” jelas Antos.

Sementara itu, menurut Henny Farida Thomas, staff Hubungan Masyarakat (Humas) Chevron Indonesia Company.,  Yayasan Peduli dipilih saat itu karena sebagai mitra kerja yang merupakan lembaga pendamping serta diakui kemampuannya dalam program pengelolaan sampah dan jaminan kesinambungan program yang banyak melibatkan perempuan di dalamnya. (sumber: http://www.automotive.id.finroll.com Written by Rollit).

Adanya inisiatif dari masyarakat yang didampingi PEDULI di sekitar area operasi Chevron yakni Telaga Sari dan Prapatan untuk mengolah sampah dari sumbernya menjadi produk yang lebih bermanfaat secara ekonomi dan lingkungan.

“Tujuan Chevron mendukung yayasan PEDULI pada program pengelolaan sampah rumah tangga, juga membantu Pemkot Balikpapan dalam menangani masalah sampah dengan paradigma mengurangi dan mengelola sampah dari sumbernya menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Chevron menjadikan lokasi program sebagai percontohan pengelolaan sampah rumah tangga (RT) di Balikpapan dengan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat sekitar, kata Henny, menambahkan.

Berdasarkan data Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota Balikpapan pada tahun 2008 jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) rata-rata sebanyak 320 ton per hari.

Setelah adanya masyarakat di beberapa tempat yang mengolah potensi sampah yang memberikan nilai ekonomi maka pada tahun 2009, sampah yang masuk ke TPA menurun hingga 300 ton per hari.

” Adapun strategi yang dilakukan yayasan PEDULI diantaranya pelaksanaan program analisa potensi sampah dan pemilihan metode pengelolaan sampah yang akan diterapkan di lokasi program,” jelasnya.

Pengidentifikasian dan pelatihan awal program pengelolaan sampah rumah tangga pada tokoh masyarakat dan pengenalan dan sosialisasi paradigma mengurangi sampah langsung dari sumbernya melalui konsep 4R (reduce, re-use, re-plant, recycle) kepada masyarakat yang sering didengungkan oleh banyak pencinta lingkungan.

Reduce berarti mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan, re-use berarti pemakaian kembali, re-plant berarti menanam kembali sedangkan recycle adalah mendaur ulang barang.

Memberikan pengenalan metode pengelolaan sampah skala RT dan implementasi metode melalui pembangunan fasilitas pengelolaan sampah dengan mengunakan gentong pengelola kompos aerob yang dibuat per dasawisma serta pendampingan selama masa pengenalan, implementasi dan evaluasi pelaksanaan program.

Serta perluasan area cakupan program melalui pengenalan metode pengelolaan sampah skala kawasan yaitu suatu metode pengelolaan sampah yang melibatkan warga dalam jumlah yang lebih besar di wilayah Kelurahan Prapatan dan Telaga Sari yang mencakup sekitar 450 kepala keluarga (KK), dimana pengolahan sampahnya dilakukan di dalam rumah kompos dengan teknologi tanpa berbau.

Henny mengatakan bahwa kontribusi Chevron berupa dukungan dana untuk program pengelolaan sampah skala RT kepada Yayasan PEDULI sebesar Rp106,510.875 dan untuk program pengelolaan sampah kawasan sebesar Rp 182.800.000.

Ditambahkan Anthos, yayasan PEDULI, memperoleh dana CSR dari beberapa perusahaan migas yang digunakan untuk pemberdayaan perempuan dalam meningkatkan sumber daya manusia dan menaikkan taraf ekonomi guna kesejahteraan keluarga serta masyarakat.

Pengelolaan CSR menyangkut tujuh prinsip: bertanggungjawab, tranparansi, beretika atau beradab, hormat terhadap kepentingan pemegang saham, taat hukum, berkelakuan sesuai norma internasional dan hak asasi manusia (HAM).

Saat ini kader militan yang dirangkul oleh yayasan PEDULI sekitar 100 orang yang berada di beberapa kelurahan wilayah Balikpapan diantaranya yakni  Telaga Sari, Prapatan, Gunung Samarinda dan Mekar Sari.

“Melaksanakan program percontohan pengelolaan sampah rumah tangga skala RT di Prapatan Dalam tahun 2003-2005 dan serupa pada RT di Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tahun 2006-2008 kerjasama dengan Chevron Indonesia Company,” tambah Anthos kembali.

Bahkan di tahun 2005-2008 program pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga pada beberapa kelurahan tahun kerjasama antara lain dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Total E&P Indonesia dan Pemkot Balikpapan.

Pembuatan dan perancangan model-model tong komposter skala keluarga dan rumah tangga dan telah diaplikasikan di beberapa kota di Kaltim khusus untuk aerob tipe dua mewakili Kaltim untuk Teknologi Tepat Guna di Pontianak tahun 2006 lalu.

Model-model tong komposter skala keluarga dan rumah tangga untuk diaplikasikan kepada seluruh RT di Balikpapan bekerjasama dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP2KB) Balikpapan tahun 2009.

Program pegelolaan sampah skala RT dari yayasan PEDULI yang didukung mitranya yakni Chevron telah membuahkan hasil.

Di antaranya yakni telah dicanangkannya RT 01 Kelurahan Prapatan sebagai model pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga di Balikpapan oleh Walikota Balikpapan, Imdaad Hamid pada tanggal 21 Februari 2006.

Lokasi pelaksanaan program khususnya RT 01, Kelurahan Prapatan telah menjadi pusat percontohan dan pembelajaran pengelolaan sampah skala rumah tangga yang memperoleh perhatian secara luas dari berbagai pihak di Balikpapan mulai dari media massa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kelompok-kelompok PKK, instansi pemerintah dan pihak swasta.

Dan rumah kompos telah menjadi pusat percontohan dan pembelajaran berbagai pihak/ instansi di Indonesia, terbukti dengan berbagai kunjungan dan studi yang dilakukan oleh pihak Jaringan Pengamanan Lingkungan (JPL) dari Lampung, Bandung, Jogjakarta, Makasar, Solo, Bali, dan daerah lain di Kalimantan. (roshan@gerbangkaltim.com)

 

 

Herman di depan Rumah Kompos

 

 

Check Also

Warga Liang Ulu Dukung Rusmadi-Safaruddin

Kota Bangun, GERBANGKALTIM.COM,- Sebagian warga Desa Liang Ulu Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *