Home » GerbangOpini » Kolom GK: Dicari! Putra Putri Terbaik Bangsa untuk Melawan Kejahatan Dunia Maya
Ilustrasi Jim Geovedi. (sumber: bingo video-youtube)

Kolom GK: Dicari! Putra Putri Terbaik Bangsa untuk Melawan Kejahatan Dunia Maya

“PAK… tolong saya diajari jadi hacker.”

Begitu permintaan, Januar dan Rizky siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Balikpapan, ketika saya sedang membaca buku warna hitam berjudul : Seni Internet Hacking.  “Saya mau jadi polisi Pak. Biar nanti bisa menangkap hacker yang jahat,” ucapnya lagi.

Rasa penasaran terhadap keinginan dua siswa itu, agak terjawab setelah saya buka-buka website yang menulis soal hacker. Beberapa situs mengulas secara detail apa itu hacker, jenis serangan yang dilancarkan hacker, juga ada ulasan cara menanggulanginya. Dari sini ternyata ada pula ada hacker yang baik dan sejatinya hacker itu memang bertabiat baik. Tetapi ada pula hacker yang tidak baik atau disebut sebagai cracker yang biasanya bersingungan dengan dunia cyber crime.

Masih ingat di benak saya tentang  berita diamankannya 12 pemuda di kawasan Jl. Siaga, Balikpapan Kalimantan Timur pada Selasa, 28 Maret 2017 oleh Tim Cyber Crime dari Mabes Polri dan Jatanras Polres Balikpapan. Tiga di antara para pemuda yang ditangkap itu, langsung dibawa ke Mabes Polri, karena diduga, adalah bagian dari jaringan sindikat kejahatan internet atau cybre crime.

Kasus ini mulai terang, bahkan langsung membuat gempar dunia maya, setelah selang dua hari tepatnya pada Kamis, 30 Maret 2017 aparat Siber Bareskrim Polri menangkap SH (19), di rumah orangtuanya Perum Pesona Gintung Residen, Tangerang Selatan, Banten. SH yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) diduga sebagai otak pelaku peretasan situs jual beli tiket online Tiket.com. Nilai kerugiannya cukup mengejutkan, Rp4,1 miliar.

SH bersama satu rekannya berperan sebagai pembobol situs, sedangkan dua lainnya sebagai tukang booking tiket untuk dijual kepada pembeli, dan satu lagi berperan sebagai tenaga marketing atau mencari pembeli secara online melalui akun facebook. Dalam penelusuran aparat, tim Cyber Mabes Polri, ternyata kejahatan internet yang melibatkan SH ada sekitar 4.600 situs online telah dibobol.

Heboh di dunia maya dalam aksi pembobolan melalui internet di Kaltim, pernah terjadi pada tiga tahun lalu, tepatnya pada  2 April 2014 di Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur. Seorang pelajar kelas XI SMK ditangkap tim cyber crime Polda Jawa Timur, karena diduga menguras rekening kas uang perusahaan di Jatim dan Yogyakarta, melalui internet. Keahlihannya di dunia maya, ternyata juga dilalui secara otodidak ketika masih kelas 1 SMP bekerja sampingan sebagai penjaga warnet.

Dua contoh pembobolan oleh hacker muda di dunia maya itu hanyalah contoh kecil dari beragam serangan yang setiap hari bertebaran di internet yang tidak mengenal batas wilayah dan waktu. Ada serangan yang hanya coba-coba atau main-main untuk tes kemampuan para pemula. Ada perorangan atau kelompok yang memang untuk mencari keuntungan pribadi atau manfaat ekonomi seperti pembobolan rekening bank. Pelakunya didominasi oleh kalangan generasi muda.

Pakar digital forensik nasional, Yudi Prayudi seperti yang dimuat di Suara.com, berpendapat pelaku kejahatan “cyber crime” dominan dilakukan generasi muda. Pelaku “cyber crime” memiliki kemampuan cukup tinggi.

Jika keahlian yang dimilikinya ini disalahgunakan tentu banyak pihak yang dirugikan. Oleh karena itu minat dan bakat yang dimiliki kalangan generasi muda harus diarahkan agar tidak memicu munculnya cyber crime yang pada akhirnya negara bisa dirugikan. Generasi muda yang berbakat tinggi terhadap IT, perlu diberikan edukasi yang baik agar bakat tersebut hanya disalurkan untuk membela kepentingan negara.

Contoh kasus situs KPU yang diganggu dengan modus mengganti 24 lambang parpol dengan gambar partai jambu pada 17 April 2004, dan pelakunya adalah oknum mahasiswa yang menjajal sistem keamanan milik KPU (www.kpu.go.id) yang katanya seharga Rp152 miliar.

Pelaku bernama Dani Firmansyah (25), seorang mahasiswa di Yogyakarta, jurusan Hubungan Internasional berhasil ditangkap. Tak mudah untuk mengungkap kasus ini, namun setelah aparat kepolisian bekerjasama dengan beberapa pihak seperti Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan penyedia jasa koneksi internet (ISP/Internet Service Provider), diperkuat dengan melibatkan hacker kaliber internasional Jim Geovedi, maka terkuaklah jejak peretas.

Berdasarkan wawancara Deutsche Welle (DW), Jim Geovedi, jika mau, bisa saja mencuri data-data penting: lalu lintas transaksi bank, laporan keuangan perusahaan atau bahkan mengamati sistem pertahanan negara. “Kalau mau saya bisa mengontrol internet di seluruh Indonesia,“ kata Jim dalam percakapan dengan Deutsche Welle.

Jim, begitu panggilan akrab hacker kelahiran 28 Juni 1979 Bandar Lampung, bukan lulusan sekolah IT ternama. Lulus SMA, Jim menjalani kehidupan jalanan yang keras di Bandar Lampung sebagai seniman grafis. Beruntung seorang pendeta memperkenalkan dia dengan komputer dan internet. Sejak itu, Jim Geovedi belajar secara otodidak: menelusuri ruang-ruang chatting para hacker dunia.

Dalam wawancara dengan DW, Jim membangun reputasi sebagai hacker, tidak memulai dengan meng-hack sistem, kemudian setelah terkenal membuka identitas dan membangun bisnis sistem keamanan. Sejak awal, dia lebih banyak bergaul dengan para hacker dunia ketimbang Indonesia, dan sering diundang menjadi pembicara seminar atau diwawancara media internasional.

Geovedi mengaku pernah meretas dua satelit Indonesia dan Cina milik para kliennya. Saat itu ia diminta menguji sistem keamanan kontrol satelit dan melihat adanya kemungkinan untuk menggeser atau mengubah rotasinya. Ia sempat menggeser orbit satelit Cina dan membuat kliennya panik karena agak sulit mengembalikan orbit suatu satelit. Dengan bahan bakar ekstra, satelit tersebut akhirnya berhasil dikembalikan ke jalurnya. Tetapi untuk satelit Indonesia, Geovedi mengaku hanya mengubah rotasinya saja.

Serangan Global dalam “Cyber War”

Berdasarkan data dari Global Digital Snapshot April Januari 2017, populasi dunia sebesar 7.497 miliar jiwa. Sebanyak 3.811 miliar orang menggunakan internet atau 51 persen dari penduduk dunia. Pengguna internet terbagi 2.907 miliar orang atau 39 persen menggunakan media sosial, 4.960 miliar orang atau 66 persen menggunakan handphone, 2.698 miliar orang atau 36 persen pengguna aktif mobile sosial.

(https://www.slideshare.net/wearesocialsg/global-digital-statshot-q2-2017)

Besarnya pengguna internet di dunia seperti data ini, merupakan sasaran utama apabila terjadi serangan global dalam “Cyber War” atau perang dunia maya. Serangan cyber malware Ransomware adalah serangan cyber yang saat ini menyerang sekitar 99 negara termasuk Amerika Serikat, Cina, Rusia, Spanyol, dan Italia di hari yang sama, juga dua rumah sakit di Indonesia. Gara-gara serangan cyber, para petugas rumah sakit terpaksa mematikan komputer NHS, dan mesin MRI dan telepon.

Seperti dimuat di Tempo.co,  sejumlah pakar mengatakan serangan cyber terjadi dengan menggunakan kode yang dicuri dari Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat oleh satu kelompok misterius yang menamai dirinya Shadow Brokers. Kode yang dicuri itu diberi nama Eternal Blue dan kemudian dirilis bulan lalu berikut password-nya. Sehingga berakibat fatal di berbagai negara.

Serangan cyber  semacam ini, bukan saja melumpuhkan aktifitas kehidupan umat manusia di era modern, namun bisa terjadi punya tujuan untuk melumpuhkan sistem pertahanan suatu negara. Ibarat pertempuran kita sudah bisa memprediksikan bagaimana “Perang Dunia Maya” atau Cyber War bakal terjadi.

Lantas bagaimana kita bisa merencanakan kemenangan itu?

Ilustrasi Polwan, (sumber: metrotvnews.com)

Salah satu solusi, untuk bisa mencapai kemenangan dalam perang dunia maya adalah mencari putra putri terbaik bangsa yang dipersiapkan dalam jumlah besar dan secara kemampuan (kualitas) siap bertempur dalam “Perang Dunia Maya”.

Polri, salah satu institusi yang kini gencar melakukan penerimaan anggotanya mulai dari Akpol, Bintara dan Tamtama. Yang menarik, khusus pada jalur Bintara tidak saja untuk Bintara tugas umum (PTU), melainkan juga dijaring para lulusan untuk mengisi Bintara Teknologi Informasi (TI). Dari hasil penjaringan Bintara TI inilah, diharapkan sebagian besar dari mereka punya andil bertempur dalam “Perang Dunia Maya” khususnya dalam membongkar kejahatan dunia maya.

Namun, untuk melihat dari data jumlah peminat di Bintara TI  yang berasal dari putra putri terbaik di berbagai daerah ini, jumlahnya relatif kecil, jika dibanding dengan peminat untuk Bintara PTU. Seperti yang dimuat Poldakaltim.com,  jumlah pendaftar penerimaan Polri 2017 yang berasal di wilayah Panitia Daerah (Panda) Kaltim dan Kaltara hingga Selasa (11/4/2017) pukul 17.00 Wita mencapai 3.220 pendaftar dan telah melakukan verifikasi di Polda Kaltim dan Polres-Polres di wilayah Kaltim dan Kaltara.

Secara rinci dari 3.220 pendaftar itu yang memilih jalur Akpol sebanyak 129 orang terdiri dari 113 pria dan 16 wanita. Untuk jalur Bintara PTU sebanyak 2.507 orang (2.113 pria, dan 394 wanita), Bintara TI 263 orang (171 pria, 92 wanita). Selanjutnya untuk jalur Tamtama sebanyak 321 orang dengan rincian pria seluruhnya.

Salah satu guru SMK di Balikpapan yang mengajar bidang TI mengatakan sangat tepat pihak Polri membuka jalur khusus bagi lulusan-lulusan SMK TI melalui jalur khusus Bintara TI. Hanya saja, walau dari jajaran kepolisian mulai tingkat Polsek hingga ke Polres-polres sudah melakukan sosialisasi menjelang pendaftaran Polri, namun masih dirasakan kurang. Sosialisasi perlu digencarkan secara terus menerus, bahkan dilakukan sejak siswa-siswi masih baru masuk SMK atau masih di kelas kelas X, agar mereka lebih siap.

Proses penerimaan yang  berlanjut pada proses seleksi, kini tengah berlangsung dan memasuki tahap tes Psikologi. Dari 3 ribuan pada awal pendaftaran yang terverifikasi, kini sudah berkurang menjadi seribuan orang akibat tidak lolos pada tahapan berbagai tes. Harapannya, dalam penghujung akhir tes nanti, memang akan memunculkan putra putri terbaik bangsa ini yang tidak saja siap berjuang melawan kejahatan dunia maya, tetapi siap bertempur dalam “Cyber War” demi mempertahankan NKRI.

Hal ini sejalan dengan apa yang diucapkan Wakapolri Komjen Pol Drs. Syafruddin, M.Si pada saat membacakan amanat Kapolri dalam penutupan Latsitarda Nusantara XXXVII di Stadion Datu Adil, Tarakan, Rabu (10/5/2017), yakni bahwa tantangan tugas  dalam menjaga kedaulatan dan keamanan bangsa dan negara, sebagai landasan pembangunan untuk kesejaterhaan rakyat, bukanlah tugas yang mudah.

Perlu dipahami, taruna, praja maupun mahasiswa adalah generasi penerus yang pada masanya nanti, akan mengambil alih tongkat kepimpinan negara ini. Jiwa kepemimpinan yang didapat dan dipupuk pada masa pendidikan, akan menjadi modal dasar dalam melangkah dalam pengabdian kepada negara.

“Jadilah pemimpin yang kuat, strong leader, yang berkarakter, dan menjadi tauladan. Tidak mengedepankan semata-mata kekuasaan dan mengandalkan bawahan, namun juga mempunyai cara berpikir kontektual serta mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat,” begitu pesan Kapolri.

Oleh: tri widodo/triwidodo@gerbangkaltim.com)

Penulis: Jurnalis dan penggiat media online

Check Also

Kabel FO Telkom Grogot Tertabrak Truk, Ganggu 7 Tower Telkomsel

Tana Paser (gerbangkaltim.com) Kabel Fyber Optik (FO) udara milik TelkomTanah Grogot pada Rabu (17/1) malam ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *