Home » Golput Bukan Pilihan

Golput Bukan Pilihan

Dalam hitungan hari, masyarakat Kota Balikpapan akan melaksanakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) yang merupakan salah satu langkah maju dalam mewujudkan demokrasi di tingkat lokal. Ada 4 (empat) pasang calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang ikut dalam pesta demokrasi ini, yaitu pasangan Bambang Edyono – Fachrudin, pasangan Syukri Wahid – Usman Chusaini, pasangan Abdul Hakim – Wahidah dan pasangan Rizal Effendi-Heru Bambang. Mereka adalah putra terbaik Kota Balikpapan yang telah dipilih melalui mekanisme jalur politik dan jalur perseorangan oleh KPU Kota Balikpapan.

Keempat pasang calon tersebut telah memaparkan visi-misi di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan. Mereka juga telah berusaha sekuat tenaga untuk mensosialisasikan diri kepada masyarakat. Melalui mimbar umum (kampanye terbuka), dialog terbatas, alat peraga kampanye (baliho, stiker, spanduk), dan melalui tim sukses masing-masing. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Demikian pula pemerintah daerah, setidaknya tidak sedikit dana yang telah dianggarkan untuk putaran pertama hajatan politik lima tahunan itu. Dana tersebut berasal dari pendapatan asli daerah (PAD) dan pajak yang dibayarkan masyarakat. Dana yang tidak sedikit tersebut tentu perlu dikelola dengan baik, artinya masyarakat Kota Balikpapan sudah saatnya sadar bahwa Pemilukada tahun ini merupakan proses panjang perjalanan demokrasi di daerah. Rakyat terlibat dalam proses demokrasi dengan mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan mencoblos tanda gambar pasangan calon Walikota dan calon Wakil Walikota. Meluangkan waktu 5 hingga 10 menit untuk menggunakan hak pilih akan sangat membantu kesuksesan dan kelancaran proses demokrasi.

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana dengan fenomena golput?. Golput memang menjadi suatu romantika dalam demokrasi. Ada kalangan yang menyebutkan golput sebagai indikator dari semakin tingginya kesadaran politik masyarakat. Karena masyarakat secara rasional bisa menentukan pilihan politiknya sendiri, termasuk menggunakan haknya untuk tidak memilih sebagai social punishment atas perilaku elit politik.

Tetapi apakah golput efektif sebagai jalan keluar? Sudah pasti jawabannya adalah Tidak. Mengapa? Pertama, pilihan untuk tidak memiilih, merupakan bentuk pemborosan terhadap anggaran belanja daerah. Uang APBD terbuang sia-sia jika tingkat partisipasi masyarakat rendah. Kedua, golput juga akan menguntungkan pasangan calon. Artinya, pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota yang menang dengan perolehan suara rendah atau hanya mempunyai basis massa sedikit akan terbantu oleh pilihan masyarakat yang golput. Tentu hal tersebut sangat merugikan pasangan calon lain. Lebih dari itu, legitimasi kekuasaan Walikota dan Wakil Walikota terpilih akan berkurang. Ketiga, mereka yang golput malah harus mengikuti apapun kebijakan dari orang yang mereka biarkan untuk menang dalam pemilukada. Dan keempat, masyarakat tidak bisa ikut berpartisipasi dalam pembangunan daerah demi masa depan yang lebih baik.

Oleh karena itu, gunakan hak pilih sesuai hati nurani. Untuk membawa Kota Balikpapan ke arah yang lebih baik, semua wajib pilih diharapkan untuk tidak golput karena sesungguhnya golput itu bukan solusi, bukan jawaban dan bukan pilihan. Karena, memilih adalah bijak. Dengan memilih, kita menjadi bagian dari masyarakat dan turut serta dalam pembangunan daerah. Pilihan kita menentukan arah masa depan Kota Balikpapan. Selamat memilih dan mencoblos tanda gambar (foto) pada 24 Februari 2011. Masa depan Kota Balikpapan ada di tangan anda. Ayo nyoblos..

Penulis: Wisnu Hardian*

*Koordinator Forum Pemilukada Damai Kota Balikpapan

Check Also

Manggar Jadi Perkebunan dan Beternak

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Calon wakil gubernur (cawagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Safaruddin memprediksi, kawasan Manggar, Balikpapan Timur, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *