Home » Ketika Budaya untuk Menghindari Politisasi Agama

Ketika Budaya untuk Menghindari Politisasi Agama

KUTAI TIMUR,- Sejumlah sesajen yang terdiri dari tembakau, telur, beras, sirih, dan buah pala tak luput kemenyan diletakkan di atas meja. Tepat di depan sepasang mempelai yang mengenakan pakaian adat Ebing. Ada Sekduq terpasang di kepala dan Tehas (kain sarung panjang yang berwarna terang dengan motif khas Dayak). Mempelai laki-laki dengan Mandau (senjata tradisional suku Dayak) yang diikatkan pada pinggang sebelah kiri. Kaki mempelai laki-laki diputar di atas asap, di dahulukan sebelah kanan selanjutnya kaki kiri. Upacara itu dipimpin oleh tetua adat seorang perempuan yang dipercaya memiliki kesaktian tinggi.

Masih di hadapan mempelai, kemudian pemimpin ritual itu memotong dua ekor babi jantan. Darah babi kemudian dioleskan di kening pengantin laki-laki. Sementara mempelai perempuan darah cukup dilekatkan pada pakaiannya. Puncaknya, ritual ditutup dengan tarian Ngelian. Setelah semua proses dilalui, kedua mempelai memberikan kenang-kenangan kepada masing-masing orang tua, disebut dengan Kemeheng. Bak gayung bersambut, orang tua yang menerima pemberian mengumbar nasehat kepada anak-anak mereka sebelum menjalani kehidupan berumah tangga. Komunikasi dua arah itu disebut Suen Keheah.

Itulah ritual nikah adat yang harus dijalankan Yen Yan Ping, keturunan asli suku Dayak Wehea yang menjadi mualaf sejak 1989. Pak Yan-sapaan akrabnya mengikrarkan diri masuk agama Islam. Dari perpindahan keyakinan itu, ia mendapat nama Syahibur Razak. Berdasarkan silsilah, dia masih keturunan raja. Dalam struktur sosial Dayak Wehea dikenal ada empat kasta. Kasta Hepui (raja-raja), Medang (turunan bangsawan), Pengin (orang biasa), dan Psap (tawanan).

Meski pak Yan seorang muslim, ritual nikah adat itu harus tetap dilaksanakan. Istrinya berasal dari suku Mandar, Sulawesi Barat. Ketika pernikahan adat berlangsung, posisi istri digantikan dengan perempuan asal Dayak Wehea. Hal ini diputuskan, karena adat istiadat si istri tidak mengenal ritual ritual nikah adat seperti itu. “Saya berpendapat perbedaan itu tidak terlalu menjadi masalah,” kata Pak Yan.

Adalagi upacara Neaq Lom (pesta penyambutan kehadiran seorang anak). Neaq Lom atau erau anak berlangsung selama dua hari. Hari pertama, para sesepuh menaburkan daun dan batang pisang dengan berkeliling kampung. Kegiatan ini disebut Leng Dung. Potongan daun dan batang pisang diperebutkan warga setempat yang menyaksikan ritual. Kemudian melemparkan kembali potongan-potongan itu. Inti dari kegiatan ini agar si anak berhasil menggapai cita-citanya. Setali tiga uang, kegiatan adat ini hukumnya wajib. “Semacam pengakuan secara adat kepada si anak,” katanya lagi.

Nilai adat istiadat tidak hanya mewarnai kehidupan sosial. Dalam urusan politik idem tito. Masih dikatakan Pak Yan yang juga Ketua Badan Permusyawaratan Desa ini, setiap kepala desa yang dilantik, harus menjalani sumpah adat. Kendati, pemerintah daerah Kutai Timur tidak mengatur mekanisme itu. Kondisi ini dipertahankan. Bila ada kepala desa yang melanggar sumpah adat, dipercaya tujuh turunan keluarga kepala desa akan mengalami kesialan dalam hidupnya. “Ada beban sosial,” paparnya lagi.

Untuk mencapai Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, tempat Dayak Wehea bermukim. Jarak yang harus ditempuh dari Kota Samarinda mencapai 387 kilometer Sedangkan dari Sengata, Ibukota Kabupaten Kutai Timur membutuhkan waktu lima jam untuk mencapai desa yang bersebelahan dengan Sungai Wehea itu. Jaraknya mencapai 187 kilometer.

Sebelumnya, Muara Wahau bernama asli Lebeng Wehea. Selanjutnya berubah menjadi Lebeng Wahau. Tapi karena banyak orang kesulitan menyebut, akhirnya diubah dengan nama Muara Wahau. Lebeng sendiri artinya muara. Di desa ini tercatat ada 531 kepala keluarga 2.613 jiwa. Selain Dayak Wehea, suku lain yang mendiami desa tersebut antara lain: suku Jawa, Bugis-Makassar, Kutai, dan Timor. Luasan desa ini belum ada kejelasan. Karena ada desakan suku lokal yang meminta penetapan batas wilayah ditentukan secara adat.

Selain Islam, agama lain yang dianut Dayak Wehea yakni Protestan dan Katolik. Dari komposisinya, penganut Islam masuk kelompok minoritas. Hanya 10% dari 800 suku Dayak Wehea disana. Selebihnya di dominasi pemeluk agama Katolik. Masuknya Islam ke daerah tersebut, menurut dibawa oleh warga pendatang. Muara Wahau merupakan daerah tujuan transmigrasi yang ditetapkan pemerintah pada 1987. Banyaknya pendatang akhirnya mengubah struktur sosial Dayak Wehea. Karena dalam migrasi itu terjadilah pernikahan silang.

Menurut penjelasan Kepala Adat Dayak Wehea Desa Nehas Liah Bing, Ledjie Taq, Islam pertama masuk di kawasan pesisir. Dibawa oleh para keturunan Kesultanan Kutai, di antaranya Datuk Ri Bandang. Semenjak itulah Suku Kutai serius menjadi komunitas lokal yang gencar menyebarkan Islam. Agama Islam sendiri masuk ke Kerajaan Kutai di awal abad 16 sampai abad 17. Saat itu pada masa pemerintahan Sultan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapat, sekitar tahun 1635. Masuknya Islam hingga mempengaruhi produk hukum Kesultanan Kutai. Dibuktikan dengan dibuatnya “Panji Selaten” dan “Undang-Undang Beraja Nanti”. Keduanya banyak merujuk kepada hukum Islam.

Sementara itu, agama Kristen disebarkan oleh penginjil asal Jerman dan Swiss. Organisasi yang mengutus para penginjil asal Jerman adalah Rheinische Mission Gessellschaft zu Barmen pada 1863-1925. Barulah dilanjutkan oleh organisasi Evangelische Gessellschaft zu Basel asal Swiss. Peran dua lembaga inilah yang banyak memengaruhi Suku Dayak, termasuk Dayak Wehea hingga menganut Kristen dan Katolik.

Sedangkan masuknya agama Kristen Protestan menurut Ledjie Taq, masuk pada 1957 yang dibawa Pendeta Boew. Namun karena pengikutnya sedikit, hanya 12 orang, perkembang agama Protestan tidak signifikan. Sebaliknya justru agama Katolik berkembang pesat. Masuk pada 1967 dibawa oleh seorang pastor bernama Frans Huvang, seorang Pastor lokal keturunan asli Dayak Mahakam. “Dayak Wehea lebih banyak menerima Katolik. Karena masih menghormati nilai-nilai budaya yang sudah ada,” kata Ledjie Taq.

Lelaki kelahiran 1948 penganut Katolik ini menuturkan, kendati keyakinan Dayak Wehea beralih dari sebelumnya Animisme, tapi banyak nilai-nilai hukum adat sangat kental dan ketat mengatur relasi antar-sesama. Meski berbeda dalam keyakinan, nilai-nilai adat itulah yang menjadi perekat agar bisa hidup berdampingan.

Relasi sosial itu terlihat pada saat di kampung tersebut ada warga yang meninggal. Dengan kesadaran yang tinggi, mereka saling membantu untuk meringankan penderitaan keluarga yang ditinggalkan. Dengan memberikan santunan dalam bentuk beras. Sama halnya dengan pesta pernikahan. Biasanya, babi disajikan sebagai menu makanan. Untuk menghormati komunitas Muslim, keluarga yang menggelar pernikahan tadi, menyediakan pula ayam potong. “Konflik pun kita selesaikan dengan cara adat,” jelasnya.

Hal itu juga dibenarkan Pastor Remiygius Ukat yang selama ini mendampingi Dayak Wehea untuk memberikan pemahaman ajaran Katolik. “Mekanisme adat itu untuk menghindari politisasi agama,” katanya. Akar budaya dengan pondasi harmoni dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi keyakinan adat Dayak Wehea.

Nilai-nilai harmoni inilah yang memudahkan warga pendatang masuk dan berinteraksi. Akibatnya, nilai-nilai itu mengalir sampai ke kehidupan sosial antara Dayak Wehea dengan pendatang. Budaya yang dilestarikan dimanfaatkan sebagai alat koreksi terhadap sesuatu yang salah. Nilai-nilai ini juga dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk mengajarkan agama. “Ini menjadi tanggung jawab bersama. Meski dibebankan kepada ketua adat,” tuturnya lagi.

Upaya menjaga nilai-nilai budaya seharusnya juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat. Ibarat segi tiga emas, kekuatan pemerintah, agama, dan adat harus dipadukan sebagai landasan ikatan sosial dalam menjalankan kehidupan. Wadah forum lintas agama diharapkan mampu melibatkan unsur tokoh adat. Ini penting, karena selama ini, forum lintas agama hanya menyentuh elit, tidak sampai di akar rumput. “Kerangkanya harus jelas. Agar tidak membunuh identitas budaya masyarakat lokal,” jelas pria kelahiran Nusa Tenggara Timur berumur 40 tahun ini.

Suku Berkuasa yang Dilanda Perang Saudara Dayak Wehea, masih menurut Ketua Adat Ledjie Taq, berasal dari Cina Daratan. Ketika menuju Malaysia, sebagian rombongan memilih untuk menetap di Apau Kayan, dalam bahasa Wehea diucapkan “Epa Kejien”. Jumlah komunitas ini akhirnya beranak cucu dari hasil pernikahan. Kemudian membentuk satu komunitas sendiri. Dalam perjalanannya, terjadilah konflik sampai menimbulkan perang saudara.

Konflik ini dipicu karena perebutan kekuasaan. Akibat perang saudara, mereka terpecah menjadi dua kelompok. “Kelompok yang kalah akhirnya lari ke Gunung Kung Beang dan memutuskan untuk menetap,” katanya. Selanjutnya, secara bertahap mereka memutuskan hijrah ke wilayah hulu. Tepatnya di Long Mesaq Teng, sebutan Sungai Wehea.
Dari kelompok ini, ada sebagian lagi yang memilih kembali pindah ke bagian hilir untuk menetap. Selanjutnya, tempat kelompok pecahan ini diberi nama kampung Nehas Liah Bing. “Nehas” sendiri artinya pasir. Sedangkan nama “Liah Bing”, diambil dari nama belakang orang pertama yang membuka perkampungan itu, yaitu Booq Liah Bing (kakek Liah Bing). “Suku Wehea akhirnya menjadi suku pertama yang mendiami daerah Wehea (Wahau),” tuturnya lagi.

Desa Nehas Liah Bing menjadi desa tertua dari lima desa lainnya yang didiami Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wahau. Wilayah adat suku ini sangat luas. Di sebelah utara hingga ke Gunung Meratus yang wilayahnya mencakup Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Sebelah selatan sampai ke Kelang, bagian hulu Batu Ampar, Kutai Timur. Di sebelah timur sampai di Sungai Kelay, di Kabupaten Berau. Terakhir di sebelah barat hingga ke Sungai Telen, Kutai Timur.

Kepala suku yang berdiam di Nehas Liah Bing adalah golongan yang paling berpengaruh dan memiliki kekuasaan lebih dbandingkan Kepala Suku Dayak Wehea lain di wilayah Sungai Telen dan Sungai Wahau. Bagi warga dari luar yang mencari penghidupan dari hasil bumi di wilayah hukum adat, wajib menyerahkan separuh hasil bumi kepada kepala suku. Upeti ini disebut “Bayah”. Bila tidak membayar, maka semua hasil bumi disita dan orangnya ditahan. (sn)

Foto diambil dari: http://hutanlindungwehea.org

 

Check Also

Polda Kaltim Ungkap 38 Kasus Korupsi

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Sepanjang tahun 2017 lalu, Polda Kalimantan Timur (Kaltim), berhasil mengungkap 38 kasus korupsi. Kasus ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *