Home » Info Today » Kolom GK: Hidup Indah Tanpa Berita “Hoax”
Aneka ilustrasi perlawanan terhadap berita hoax. (Sumber gamber: Google)

Kolom GK: Hidup Indah Tanpa Berita “Hoax”

“Kalau jurnalis ikut menyebarkan ‘hoax’, bagaimana dengan berita di media.” Itulah sepengal keluhan salah satu teman jurnalis ketika sedang membuka grup WA (Whatsapp)-nya, beberapa waktu lalu. Entah apa yang sedang dikabarkan dalam grup itu, namun tampaknya rekan jurnalis ini terkesan kecewa dan prihatin.

Berita hoax yang belakangan ramai diperbincangkan, tidak saja kalangan melek internet namun hampir semua lapisan masyarakat. Mulai dari anak SD hingga perguruan tinggi, ibu rumah tangga sampai para pensiunan, hingga penguasa dan pejabat, ramai memperbincangkan banyaknya berita “hoax”. Yang lebih ramai lagi kalangan penggiat media sosial, seperti mereka yang aktif dalam akun FB, Twitter, Line, Instagram, dan lainnya.

Berita hoax atau disebut berita bohong yang dipopulerkan melalui film “The Hoax”, kisah nyata tentang penulisan otobiografi miliuner AS, Howard Huges pada tahun 1971. Penulisnya, Clliford Irving yang diperankan Richard Gere, ingin memperoleh honor besar dengan menulis otobiografi sang miliuner, dan menawarkan kepada penerbit terkenal AS McGraw-Hill.

Otobiografi yang seharusnya ditulis hasil wawancara langsung kepada pengusaha bidang persawat terbang itu, ternyata dilakukan melalui wawancara imajiner, alias khayalan penulis. Dokumen pendukung tulisan pun dipalsukan. Hasilnya, karya tulis Irving sangat meyakinkan sehingga penerbit langsung percaya dan mencetak otobiografi dalam jumlah besar.

Pakar pun mempertanyakan keaslian tulisan itu, dan celakanya penerbit justru membela, dan menyatakan otobiografi itu benar-benar ditulis secara profesional. Akhirnya, kebohongan tulisan ini terkuat setelah yang punya otobiografi (Howard Huges) mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah diwawancarai oleh penulis sama sekali. Film yang dirilis tahun 2007 itupun seakan memberikan jawaban bagaimana berita hoax bisa diciptakan oleh orang-orang yang sebenarnya mempunyai nama-nama terkenal, maupun surat kabar yang kredibilitasnya sangat baik di mata pembacanya.

Hal ini juga dibuktikan oleh salah satu situs Enigmablogger.com yang sering membahas berita misteri, berita aneh kiriman pembaca untuk dibedah. Apakah ini berita asli atau berita palsu. Dalam mengungkap kebenaran berita itu, Enigmablloger.com menyelidiki dari beberapa segi, seperti dari keaslian foto yang sering dibuat dengan rekayasa photoshop oleh pelaku hoax, hingga mencari sumber asli pertama berita, sehingga terkuak bagaimana berita itu tercipta.

Kisah “Rekayasa foto ular raksasa Borneo” pernah dibongkar habis dan masih bisa kita baca di laman Enigmablogger.com dengan alamat lengkap: http://www.enigmablogger.com/2009/07/rekayasa-foto-ular-raksasa-borneo.html. Masih banyak kisah-kisah yang aneh-aneh berhasil dibongkar oleh situs ini, sehingga memberikan gambaran kepada pembaca apakah berita itu hoax atau tidak.

Hoax di Era Teknologi Informasi

Lain dulu, lain sekarang. Hoax dulu yang cenderung untuk berita misteri dan lucu-lucuan, kini di era teknologi informasi yang ditandai mudahnya akses internet dan melahirkan beragam media sosial untuk saling berbagi informasi, maka hoax dibuat untuk berbagai tujuan.

Ada yang menyebarkan berita hoax untuk menghasut, memfitnah hingga memecah belah kerukunan warga yang sudah hidup dalam ketenangan bermasyrakat. Bagi sekelompok orang atau penggiat media sosial, hoax juga bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan keuntungan secara finansial. Seperti mendatangkan banyak kunjungan dalam website yang dibuat, agar mendapat porsi iklan besar dari Google. Selain itu, ada pula berita hoax yang memang pesanan dari kelompok, atau seseorang yang ingin menjatuhkan kelompok, atau orang lain. Tentu saja, pembuat berita hoax menerima bayaran dari pemesannya. Ada pula kombinasi antara keduanya, mendapat bayaran dari pemesan, dan bayaran dari iklan sebagai imbas banyaknya pengunjung website.

Yang memperihatinkan, masyarakat yang menerima berita hoax sering dengan begitu saja meneruskan atau share berita melalui akun media sosialnya, tanpa memeriksa lebih jauh tentang kebenarannya. Bagi penerima berita hoax juga sering tergoda untuk segera membagikan ke grup-grupnya agar  dikatakan eksis di medsos, atau menjadi orang pertama lebih tahu dan membagikan berita.

“Ya ingin share aja ke teman-teman, biar ramai aja,” begitu komentar salah satu pelajar SMP yang pernah ditanya penulis.

Tingkat pendidikan masyarakat yang membagikan berita hoax, tampaknya juga tidak terlalu berpengaruh. Seperti yang dilakukan seorang guru dengan gelar pasca sarjana yang memang aktif di FB, suatu hari membagikan tautan tentang bahaya memakan iklan lele. Ikan berwarna hitam ini dikatakan bisa menyebabkan kanker. Ya di akun itu disebut, karena lele hidup di aliran air yang kotor, berwarna hitam sehingga bisa meyebabkan kanker bagi yang memakannya.

Banyak yang berkomentar setuju, maupun memberikan tanda jempol. Penulis, waktu itu tidak memberikan komentar, namun memberikan satu link atau alamat di internet yang menyangkut bantahan bahwa ikan lele bukan penyebab kanker bagi yang memakannya.  “Wah yang punya lele marah.” Begitu komentar pemilik akun FB itu, tanpa merasa bersalah telah menyebarkan informasi yang tidak benar.

Media Arus Utama Ada yang Senang Berita Hoax

Wisnu Prasetya Utomo, peneliti Remotivi (Pusat studi media dan komunikasi: www. remotivi.or.id), dalam tulisannya berjudul: Melawan Berita Palsu dari Whatsapp”  disebutkan,  informasi-informasi hoax di Whatsapp bisa menyebar cepat baik melalui chat personal maupun di grup-grup yang diikuti.

“Butuh upaya lebih untuk bisa menghentikan penyebaran informasi palsu yang semakin masif. Apalagi yang menjadi korban dari informasi-informasi tersebut tidak hanya pengguna biasa, melainkan juga media-media arus utama yang mestinya bisa dipercaya berita-beritanya,” begitu tulisnya.

Media-media arus utama di Kaltim tak terkecuali di antaranya sempat membuat informasi-informasi palsu, baik yang tersebar melalui Whatsaap, maupun media sosial lain seperti Facebook.  Seperti pada berita soal jadi tidaknya pelantikan ketua terpilih partai Golkar Balikpapan, yang mensyaratkan adiknya harus mundur dari partai Demokrat Balikpapan. Di saat kebuntuan informasi, dan saling cepat menyajikan berita terbaru ditunggu pembacanya, ada salah satu media arus utama melalui media onlinenya menurunkan judul:   Adik Rahmad Mas’ud tak Mau Mundur dari Partai Demokrat, Ini Penegasannya di Facebook. Media lain juga tak mau kalah menyajikan hal yang sama dengan mengutip habis seluruh status yang empunya FB, termasuk komentar-komentar para pengikutnya dimuat.

Tak satupun yang langsung melakukan verifikasi menghubungi Ketua Demokrat Balikpapan sebagai pemilik akun FB. Hal ini oleh media-media tampaknya sudah dianggap sebagai informasi akurat. Padahal bisa saja memang tulisan itu langsung ditulis oleh pemilik akun FB, tetapi juga bisa ketika tulisan itu dimuat, FB yang bersangkutan sedang “dikuasai” oleh orang lain, atau yang lebih parah, FB sedang dibajak atau di-haker.

Yosep “Stanley” Adi Prasetyo, yang kini menjadi Ketua Dewan Pers menyatakan dalam wawancara di Tirto.id  menyatakan terlarang wartawan mengambil berita dari sosmed. Seluruh informasi di sosmed bisa menjadi berita kalau melakukan verifikasi. “Harus verifikasi dan validasi informasi,” katanya.

Pertanyaan ini terkait dengan pengutipan 17 media termasuk dua diantaranya media nasional terhadap isi akun twitter Ahmad Dani yang berisi ucapan tentang sebuah kasus, berbau politik. Ahmad Dani melapor ke Dewan Pers, dan media tersebut harus meminta maaf serta memberikan hak jawab.

“Mereka tidak melakukan verifikasi kepada Ahmad Dhani: Benar enggak? Makanya, kami menyatakan informasi itu hoax,” jawab Ketua Dewan Pers seperti yang dimuat di Tirto.id.

Dalam wawancara itu, Ketua Dewan Pers menggelompokkan tiga model berita hoax. Pertama, berita yang dibuat untuk kepentingan tertentu lalu disebarluaskan dengan tujuan dan maksud tertentu.

Kedua, ada berita yang mungkin dibuat oleh media tidak profesional dengan kombinasi wartawan yang inkompeten termasuk tidak paham melakukan verifikasi, sehingga apa yang dianggap “berita” ini muncul tanpa verifikasi, dan media tersebut tidak berbadan hukum.

Ketiga, media ini tidak proper, beritanya salah, mengambil dari sumber yang tidak kredibel, yang celakanya berita itu diambil orang lain lalu disebarkan untuk kepentingan tertentu.

“Masyarakatlah yang dirugikan. Yang mengetahui, harus laporkan ke polisi. Polisi akan koordinasi dengan Dewan Pers dan kita akan laporkan karena ini murni tindak pidana.” Begitu kata pria yang akrab dipanggil Stanley.

Peran polisi untuk menyetop atau menghentikan tindakan penyebar hoax memang diperlukan, di samping upaya-upaya lain dalam hal edukasi atau literasi media kepada masyarakat luas bagaimana mengenal ciri-ciri berita hoax, menyikapi berita hoax, dan yang penting tidak meneruskan atau menyebarkan berita hoax.

Cara Kapolda Kaltim Mencegah Berita Hoax

Dalam sebuah wawancara  live di TVRI Kaltim di Samarinda, salah satu warga menanyakan apa tindakan kepolisian selama ini. “Mohon maaf Pak Kapolda mudah-mudahan berita hoax ini dapat diatasi dengan baik di Kaltim khususnya di Samarinda,” tanyanya, seperti yang dimuat di web berita Poldakaltim.com.

Menjawab pertanyaan tersebut, Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin  mengatakan berita hoax yang disebar melalui medsos bagi pelakunya memang seperti tidak ada yang melihat. Tetapi ketika itu berita itu disebar, maka jutaan orang yang melihat.

“Jadi harus pribadi kita yang mesti diperbaiki. Karena berita bohong yang kita sebarkan itu dilarang oleh agama. Makanya dengan adanya ini, setiap Jumat saya keliling khotbah membahas masalah hoax karena di dalam Islam, menggunjing itu termasuk orang-orang yang bangkrut,” jawab Kapolda Kaltim.

Selain imbauan-imbauan, kini kepolisian melalui Tim Cyber Polri terus bekerja memantau aktivitas di medsos dan dunia maya (internet). Pemerintah melalui Revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) pada November 2016 lalu, juga menjadi rambu-rambu agar warga tidak seenaknya membuat dan atau menyebar berita hoax. Komunitas-komunitas hoax, para jurnalis, para penggiat media sosial lainnya pun kini beramai-ramai melakukan perang terhadap berita hoax. Tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat tak ketinggalan menyuaran anti hoax.

Tinggal bagaimana kita semua berkomintmen untuk terus menjaga agar tidak lahir berita-berita hoax baru yang diciptakan oleh orang atau kelompok dengan maksud dan tujuan tertentu. Semoga, tanpa ada kegaduhan yang bersumber dari berita hoax, hidup kita akan tenang. (tri widodo: triwidodo@gerbangkaltim.com)

*Penulis: jurnalis di Balikpapan dan berkecimpung di media online

Check Also

Polda Kaltim Ungkap 38 Kasus Korupsi

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Sepanjang tahun 2017 lalu, Polda Kalimantan Timur (Kaltim), berhasil mengungkap 38 kasus korupsi. Kasus ...

One comment

  1. Berita apapun bila bersifat bohong atau hoax pastinya akan merugikan pembacanya sehingga lebih baik menyajikan berita-berita yang terpercaya dan benar-benar terjadi serta ada rujukan atau referensinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *