Home » GerbangNews » Laporan GK dari Makkah: Umroh Sunnah, Cukup Miqot di Masjid Siti Aisyah Tan’ Im di Makkah
Jamaah umroh ketika bersiap-siap tawaf mengelilingi Kabah.(foto: danar/gk)

Laporan GK dari Makkah: Umroh Sunnah, Cukup Miqot di Masjid Siti Aisyah Tan’ Im di Makkah

GERBANGKALTIM.com, MAKKAH.– Kesempatan beribadah di tanah haram, Makkah sangatlah berlimpah. Selain berlipatnya pahala dari ibadah fardhu dan sunnah yang dijalankan, beragam ibadah pun sebenarnya dapat dilakukan dengan berulang. Salah satunya ibadah umroh.

Danar, wartawan GK.

“Sebagian besar jamaah sudah mengetahui bahwa kita bisa melakukan ulang ibadah umroh dengan melaksanakan pengambilan miqot atau niat umroh. Jamaah dapat mengambil miqot atau melaksanakan niat umroh di Masjid Siti Aisyah Tan Im,” kata Danar Abisatya Hidayat, wartawan Gerbang Kaltim (GK) dari Makkah Al Mukaromah.

Jaraknya tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram, sekitar 8 kilometer. Di tempat ini merupakan tapal batas bagian utara tanah haram.  Tersedia transportasi menuju Masjid Tan Im dengan biaya 2 Real sekali jalan. Sebagian jamaah umroh itikaf dari Indonesia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk melaksanakan umroh badal dan umroh sunnah.

Salat di Masjid Siti Aisyah, Tan Im.(foto: danar/gk)

Umroh badal adalah pelaksanaan umroh untuk menggantikan orang lain. Dengan kata lain kita yang berniat menjalankan rukun-rukun umroh dan ditujukan kepada orang lain.

“Biasanya ditujukan untuk orang tua yang sudah meninggal yang belum sempat menjalankan ibadah umroh, atau untuk orang orang yang dalam kondisi tidak mampu menjalankan ibadah umroh,” kata Danar.

Masjid Tan ‘In dan tugu tapal batas tanah haram di Makkah bagian utara.(foto: danar/gk)

Abu Adam ketika bertemu dengan wartawan Gerbang Kaltim yang juga sedang melaksanakan umroh badal menyatakan dirinya dan istri melaksanakan umroh badal untuk almarhum mertua.

“Sekalian kami laksanakan umroh badal ini karena memang ada kesempatan waktu yang baik, mas,” terang abu adam.

Abu Adam memilih menjalankan umroh wadal beserta rombongan di waktu pagi hari. Karena alasan cuaca dan puasa.

Memburu Lailatul Qadar di Baitullah

Indahnya malam seribu bulan atau Lailatul Qadar sangat dinantikan jiwa-jiwa muslimin yang rindu akan curahan kasih sayang dari Rabb-Nya, Allah SWT. Tidak ada kata sulit bagi sang pencari. Salah satunya adalah dengan melaksanakan ibadah salat malam pada malam-malam  sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Suasana di luar Masjidil Haram.(foto: danar/gk)

“Persiapan fisik dan stamina yang fit mutlak dilakukan dalam beritikaf di Masjidil Haram. Sebab rangkaian ibadah di Masjidil Haram memerlukan ketahanan fisik yang bagus,” kata Danar.

Jamaah itikaf dari indonesia, Abu Ummu bercerita berdasarkan pengalamannya, biasanya puncak keramaian ibadah di malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah di malam 25 dan malam 27.

“Malam 25 dan 27 ramadan menjadi malam yang istimewa bagi jamaah, terutama di Masjidil Haram ini,” jelas Abu Ummu. “Meskipun sejumlah ulama juga berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar bisa saja turun di malam genap dan malam ganjil, wallahu a’lam bishawab,” tambah Abu Ummu.

Dalam penjelasannya, Abu Ummu menyampaikan insan yang memperoleh malam lailatul qadar pasti bisa merasaka ketenangan jiwa, sebab ibadah ini merupakan ibadah hati.

Limpahan pahala seperti yang dijanjikan Allah aka dapat dirasakan dalam hati dan rasa berupa ketenangan  jiwa dan tingkat kesabaran yang meningkat.

Tips yang lain bagi jamaah juga sebaiknya memahami tata cara salat jenazah, karena setiap selesai pelaksanaan salat wajib selalu dilakukan. Salat jenazah. Hal itu juga terjadi di masjid Nabawi.***

Check Also

Kabel FO Telkom Grogot Tertabrak Truk, Ganggu 7 Tower Telkomsel

Tana Paser (gerbangkaltim.com) Kabel Fyber Optik (FO) udara milik TelkomTanah Grogot pada Rabu (17/1) malam ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *