Home » Mencicipi Manisnya Gula Merah Rasa “Chevron”

Mencicipi Manisnya Gula Merah Rasa “Chevron”

produk-gula-semutGULA merah, mungkin salah satu oleh-oleh khas Penajam Paser Utara (PPU), yang dikenal banyak orang. Di balik manisnya gula merah yang khas itu, tersembunyi proses panjang sebelum akhirnya menyatu dalam hidangan aneka kue dan kuah sayur pelengkap makan.

Hari masih pagi, ketika kami meninggalkan Kota Balikpapan melalui Pelabuhan Semayang menuju Penajam. Kami menumpang kapal yang biasa digunakan menyeberangkan karyawan Chevron, sebuah perusahaan migas yang memiliki wilayah operasi di Balikpapan dan Penajam.

Hanya memerlukan 25 menit, kami pun sudah tiba di Penajam. Deretan pohon kelapa sepanjang pantai mulai terlihat melambai-lambai, seakan menyambut kedatangan kami. Perjalanan darat dilanjutkan dengan menggunakan mobil, langsung menuju perajin gula kelapa di Desa Bere Bere RT 08 Kel Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pelabuhan Penajam.

Ketika mulai memasuki jalan desa yang beraspal mulus, pohon kelapa makin rapat di sisi kiri dan kanan jalan, terutama yang berada sisi pesisir. Entah siapa yang pertama kali menanam pohon kelapa dan pohon aren di wilayah PPU. Yang pasti, ribuan pohon itu juga berjajar di sepanjang pesisir pantai Penajam hingga Tanjung Jumlai, bahkan hingga ke Kabupaten Paser, yang dulu merupakan induk dari PPU sebelum akhirnya dimekarkan tahun 2002.

proses-gula-kelapa1“Sebagian besar perajin gula merah di sini tidak memiliki pohon kelapa sendiri. Termasuk Pak Nursalim yang mau kita kunjungi. Dia sewa pohon kelapa pemilik lahan,” jelas Mohamad Nurwathoni dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Swisscontact, yang memfasilitasi Chevron Indonesia dalam menyalurkan bantuan Tanggung Jawab Sosial (TJS) kepada masyarakat di Kabupaten PPU.

BEKERJASAMA SUAMI ISTRI
Di sebuah gubuk yang berada di belakang rumah tinggal, tampak pasangan suami istri, sedang sibuk. Sang istri asyik mengaduk sebuah adonan di wajan besar, sementara sang suami menuang cairan nira kelapa.

“Ya beginilah kesibukan kami berdua setiap pagi. Dalam memasak gula kelapa ini saya selalu berdua dibantu istri, karena memang tidak bisa sendiri. Apalagi pas mencetak gula kelapa, tetap harus kerjasama. Pokoknya tambah rukun lah keluraga kami,” ucap Nursalim, yang disambut senyum malu-mallu Siti Mujayanah, istrinya.

Setiap pagi sekitar pukul 6.00 Wita Nursalim sudah memulai rutinitasnya naik turun pohon kelapa di sekitar tempat tinggalnya. Ada 58 pohon setiap pagi yang harus dipanjat untuk diambil niranya. Terkumpul beberapa jerigen ukuran 20 liter, diapun pulang. Sementara sang istri sudah menyiapkan tungku dengan bara api yang cukup.
“Nira ini langsung harus segera dimasak, biar tidak berubah rasanya. Kalau terlambat beberapa menit, nggak bisa dimasak jadi gula kelapa,” katanya.

gula-aren-dicetakKami sempat mencicipi nira yang baru saja dituang kedalam wajan. Rasanya segar, mirip air legen yang dijual di pasar ketika kami masih di Jawa. “Ya memang legen,” kata Ridwansyah, pendatang dari Banyuwangi, sembari tertawa. “Nah, kalau dimasak terus sampai airnya habis, jadinya gula merah,” tambah Nursalim menggambarkan proses sederhana pembuatan gula merah.

Nursalim menceritakan bagaimana pertama kali belajar membuat gula merah kepada pamannya yang penduduk asli PPU pada tahun 1985. Mulai proses memanjat, memotong dan mengambil nira, hingga mengolah menjadi gula merah. Semua pengalaman itu didapatkan dari sang paman.

Pertama kali, hanya sepuluh pohon yang bisa dipanjat, namun dari ketekunannya, dia akhirnya cukup mahir dan rata-rata 50 pohon sehari berhasil dipanjat. Hasilnya memang cukup lumayan, dalam sehari bisa mengantongi uang Rp100 ribu, dari hasil menjualnya sendiri gula merah ke pasar setempat.

Namun hasil ini masih kotor, karena harus dipotong dengan biaya membeli kayu bakar, biaya transportasi, dan biaya sewa 80 pohon kelapa sebesar Rp300 ribu per bulan. Pohon kelapa yang disewa hanya khusus diambil air niranya, dan selama diperah untuk diambil niranya, maka pohon kelapa itu tidak menghasilkan buah kelapa.

MULAI BERUBAH

gula-aren-tradisionalRutinitas puluhan tahun itu dijalani dengan tekun dan penghasilannya dirasakan cukup, di samping hasil dari buruh berkebun sayur mayur. Kabar gembira datang ketika 2 tahun lalu dia mengikuti pelatihan membuat gula merah yang digelar oleh Chevron. Selain diajarkan cara mengolah gula merah, mereka dikenalkan pembuatan secara langsung tungku pengolahan yang lebih hemat bahan bakar dan bersih.

“Saya dibantu untuk biaya pembuatan tungku, kalau dirupiahkan sekitar Rp700 ribu. Ya begini hasilnya, kayu bakarnya cuma perlu sedikit, dan yang hasil gula merahnya bersih, karena abu pembakarannya tidak kemana-mana,” kata Nursalim.

Berdasarkan pelatihan itu, juga ditekankan pentingnya penggunaan bahan-bahan yang alami, baik pada saat memanen nira, hingga saat pengolahan gula kelapa. “Saya juga sudah menerapkan sistem memamen dua kali sehari, pagi dan sore hari. Coba dicicipi hasilnya, lebih manis,” katanya sembari menyodorkan hasil produksi gula merah bikinannya dengan bangga.

Matahari mulai menyengat, dan kami tidak dapat menunggu proses pembuatan gula merah di tempat Ridwansyah sampai proses pencetakan, yang diperkirakan selesai tengah hari. Untuk menghemat waktu, kami kunjungi perajin gula merah di RT 5, Desa Api Api, Kecamatan Waru. Jaraknya sekitar 34 kilometer dari Penajam, dan terletak di tepi jalan poros Penajam-Tanah Grogot, Kabupaten Paser.

dapur-gula-merahKedatangan kami rupanya sudah ditunggu sang perajin gula aren yang bernama Ridwansyah. Memang sebelumnya dia sudah ditelepon agar memperlambat proses memasaknya dengan mengecilkan api. Dapurnya terbuat dari keramik berwarna putih bersih, dan di sekelilinginya dipagari dari papan kayu ulin kecil-kecil. Sangat kontras dengan rumahnya yang masih dalam tahap renovasi.

“Silakan pak. Ini sudah mau matang. Tadi sengaja apinya saya kecilkan, katanya mau data tamu yang melihat. Biasanya, jam segini (sekitar pukul 11.00 Wita, Red) sudah dicetak,” sapa Ridwan sembari mempersilakan kami memasuki dapur pengolahan berukuran 4×4 meter.

Hampir serupa dengan proses pembuatan gula merah berbahan nira kelapa, di tempat Ridwansyah ini dia menggunakan bahan nira yang diambil dari pohon aren. Bedanya, untuk pengolahan hanya memerlukan waktu sekitar 2 jam dengan cara yang sama yaitu dimasak dalam tungku. Pohon aren yang diambil juga banyak seperti kelapa. Hanya sekitar 10 pohon aren setiap hari dipanjat untuk diambil niranya, karena rata-rata satu pohon menghasilkan antara 5 sampai 10 liter nira. Namun untuk mempersiapkan satu pohon bisa diambil niranya, diperlukan waktu 3 bulan dengan beberapa “ritual” perawatan, seperti mengoyang-goyangkan buahnya setiap hari.

“Sejak menggunakan tungku hasil pelatihan Chevron, proses memasaknya jauh lebih cepat. Abunya juga tidak berhamburan ke dalam gula merah. Hasilnya tentu lebih manis,” ujar Ridwansyah yang sudah sejak tahun 1985 menggeluti perajin gula merah.

Menurut Nurwathoni, Project Manager SCES PPU dari Swisscontact yang menjadi mitra Chevron dalam meningkatkan ekonomi masyarakat PPU, sebenarnya dari pelatihan yang digelar jumlah perajin yang hadir mencapai 50-an orang. Namun dari jumlah itu, sekitar separohnya yang aktif, dan mulai tertarik menerapkan apa yang diajarkan selama beberapa pelatihan.

“Memang tidak mudah mengubah kebiasaan. Tapi kini mereka mulai tertarik, karena melihat langsung dari temannya yang sudah menerapkan pola pembuatan tungku yang baru,” ujar Nurwathoni yang akrab dipanggil Toni, sembari menambahkan Chevron mengalokasikan dana Rp500 ribu untuk merenovasi pembuatan tungku-tungku perajin gula merah di PPU. “Kami gotong royong dalam membuatnya, karena harus jadi dalam waktu satu hari,” tambahnya.

gula-arenDijelaskannya, para perajin juga mulai menerapkan produksi gula merah dalam bentuk gula semut yang berbentuk butiran kecil-kecil. Selain harganya yang tinggi, gula semut ini biasa dikonsumsi untuk kalangan menengah. Gula semut ini baik disajikan bersama minuman penghangat badan, pengganti gula pasir yang diyakini baik untuk kesehatan.
“Sejak Mei tahun 2013 kami merintis untuk mendaftarkan produk gula merah ini agar dapat sertifikat halal,” kata Toni.

Proses membuat gula merah, baik berbahan baku air nira dari kelapa maupun gula aren rasanya sudah cukup bagi kami bisa memahami bagaimana uletnya para perajin di PPU menggelutinya setiap hari. Tradisi yang sudah bertahun-tahun, ternyata cukup menambah penghasilan mereka. Apalagi kini mereka mendapat sentuhan proses produksi yang lebih baik, sehingga penghasilan mereka juga meningkat.

Setelah kami menyaksikan tetes terakhir gula aren dituang ke dalam cetakan, kami pun beranjak pamit. Yang jelas, gula merah produksi perajin PPU yang sekarang tidak ada abunya lagi, tidak berbahan kimia. Kini rasanya jauh lebih manis, dan suatu ketika akan ada gula merah rasa “Chevron” karena sangat manis dan higienis.***
Penulis dan foto: tri widodo

Check Also

BNNK BALIKPAPAN PERINGATI HANI 2018

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Setelah tertunda, pelaksanaan peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2018 ru bisa dilaksanakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.