Home » GerbangNews » Nakhoda MV Ever Judger di Sel

Nakhoda MV Ever Judger di Sel

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Setelah “Z-D”, Nakhoda Kapal MV Ever Judger, ditetapkan sebagai tersangka sejak pertanggal 1 Mei 2018 resmi di masukan Sel alias ditahan di Rutan  Polairut, guna  kepentingan penyidikan. Sementara itu, terkait dengan penahanannya, Polda Kalimantan Timur (Kaltim) juga sudah menyurati pihak Kedutaan Tiongkok.

Direskrimsus Polda Kaltim Kombespol Yustan Alpiani mengatakan, dari keterangan tersangka, mengakui jika memang ada kesalahan dalam memberikan perintah kepada para anak buah kapal (ABK), sehingga membuat jangkar mematahkan pipa milik Pertamina. Hingga proses penyidikan, jumlah saksi terus bertambah yakni sudah 65 saksi yang diperiksa.

Setelah menetapkan tersangka dalam kasus pencemaran di Teluk Balikpapan, Direktorat Kriminal Khusus Polda Kaltim kapal pengangkut batu bara MV Ever Judger, sekaligus mencekal seluruh anak buah kapal (ABK) agar tidak bepergian keluar negeri.

Usai mengambil barang bukti berupa potongan/patahan pipa milik PT Pertamina (Persero) di dasar laut perairan Teluk Balikpapan, Direktorat Kriminal Khusus kembali melakukan penyitaan barang bukti lainnya yakni Kapal MV Ever Judger, pemilik jangkar yang disebut sebut mematahkan pipa milik Pertamina.

Kapal berbendera Panama itu dijaga ketat aparat kepolisian serta disegel. Sementara itu, seluruh awak kapal termasuk nahkoda yang merupakan warga negara asing (WNA) asal Tiongkok dicekal.

Terkait dengan penetapan tersangka, menurut Direktur Kriminal Khusus, Kombespol Yustan Alpiani, akan ditetapkan dalam waktu dekat ini sambil menunggu pemeriksaan hasil tim labfor Surabaya terhadap jangkar dan pipa milik Pertamina.

Polda Kaltim membutuhkan waktu lama dalam pengangkatan pipa di dasar laut, lantaran kondisi cuaca dan arus gelombang cukup tinggi serta beberapa mata pisau pemotong pipa sempat terputus, sehingga membutuhkan waktu selama 21 hari.

Sebelumnya, penyidik Polda Kaltim menetapkan Nakhoda MV Ever Judger Z-D sebagai tersangka. Penetapan Z-D berusia (50) sebagai tersangka sesuai hasil gelar perkara yang dilakukan dan dari keterangan 55 saksi yang diperiksa.

Kombespol Yustan Alpiani menambahkan, Tersangka dijerat dengan pasal 98 ayat 1-2-3 jungto pasal 99 ayat 1-2-3 Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Atau PPLH. Selain itu, tersangka Z-D juga dijerat dengan pasal 359 terkait kelalaian yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Sementara itu, hingga kini terkait asal api, pihak Polda Kaltim masih menunggu hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dilakukan Tim Labfor Surabaya. Akibat kejadian akhir Maret lalu itu, tidak saja merusak lingkungan sekitar, terutama hutan mangrove, satwa laut, merugikan kaum nelayan setempat, tapi juga membunuh lima manusia yang ketika itu sedang memancing.

Ceceran minyak yang disebut-sebut minyak mentah (crude oil) itu mengambang di permukaan Teluk Balikpapan dan terbakar hebat membuat panik masyarakat yang huniannya tidak terlalu jauh dengan lokasi kejadian. Asap hitam membumbung dan api semakin meluas hingga mengepung kelima nelayan yang sedang memancing dengan menggunakan perahu kecil. Karena tidak tertolong, kelimanya tewas.

Terkait dengan kejadian terhamburnya minyak di perairan Teluk Balikpapan yang pada akhirnya menimbulkan kebakaran hebat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, mengaku belum bisa menjatuhkan sanksi terhadap pelaku atau oknum yang membuat kesalahan. Alasan Jonan, masih menunggu hasil tim investigasi.

Namun yang terpenting bagi Menteri ESDM adalah apa penyebab putusnya pipa tersebut, sehingga penegakan hukumnya atau sanksi yang akan diberikan tergantung dari apa penyebabnya.

Ignasius Jonan masih menunggu hasil investigasi dari tim yang dibuat Polri dan Kementerian LHK. Kejadian akhir Maret lalu diharapkan yang terakhir dan tidak terulang kembali di masa datang, karena kejadian ini banyak merugikan semua pihak.

Terkait dengan kasus ini, Pemerintah Kota Balikpapan (Pemkot), Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan penghitungan ganti rugi secara hati-hati terhadap korban atau masyarakat yang terdampak kebakaran akibat tumpahan minyak mentah (crude oil) di perairan Teluk Balikpapan yang disebut-sebut milik Pertamina.

Kehati-hatian penghitungan itu agar tidak ada masyarakat yang merasa dirugikan. Dalam penghitungan, Pemkot  KLHK masih melalukan penghitungan ganti rugi yang harus dibayarkan. Saat ini, pendataan sudah dilakukan terhadap nelayan budidaya dan tangkap serta lingkungan. Namun demikian dari penanggulangan dan ganti rugi memang sudah ada beberapa yang diberikan, diantaranya para korban dan nelayan. (hm/sh)

Check Also

Ketum Persiba Siap Mundur

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Ketua Umum (Ketum) Persiba Balikpapan, Syahril HM Taher, siap mundur atas hasil buruk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.