Home » Gerbang Health » Pasien Darah Langka Menanggung Biaya Lebih Mahal
Wong Lie dan jeritan hatinya yang dimuat di RNI. (Foto: www.rhesusnegatif.com)

Pasien Darah Langka Menanggung Biaya Lebih Mahal

Wong Lie Harus Mencari Donor di Luar Balikpapan (1)

WAJAHNYA agak memucat. Ibu rumah tangga ini terbaring di ranjang besi, salah sudut ruangan Flamboyan, kamar kelas III Rumah Sakit Kanujoso Djawitiwobo Balikpapan, Kalimantan Timur. “Lagi menunggu transfusi. Mau cuci darah lagi, tapi HB (kadar hemoglobin dalam darah, Red) masih turun. Besok kemungkinan darahnya datang dari Sangatta,” kata Wong Lie Djin.

Wanita yang akrab dipanggil Lie ini  tampak ceria selama berbincang dengan Gerbang Kaltim, baru-baru ini. Tawa khasnya seakan menjadi penghibur bagi pasien maupun keluarga pasien yang menyesaki ruangan ber-AC namun tidak dingin lagi.  Lie, sudah 7 tahun ini menderita gagal ginjal. Dulu setiap satu bulan, kadang tiga bulan sekali harus cuci darah. Setahun terakhir setelah menjalani operasi perut di RS Darmo Surabaya, kondisinya membaik. Cuci darah hanya diperlukan saat kadar HB-nya turun.

Banyak yang beranggapan Lie masih beruntung, karena tak sedikit pasien lainnya harus rutin cuci darah seminggu sekali. Tetapi, Lie berbeda. Dia salah satu dari pemilik golongan darah B rheshus (RH) negatif (B-) yang cukup langka. Pemilik darah rhesus negatif di Indonesia maupun di dunia tidak banyak.

Seperti yang dimuat di web komunitas Rhesus Negatif Indonesia (RNI): http://www.rhesusnegatif.com, jumlah pemilik rhesus negatif pada ras bule (seperti warga Eropa, Amerika, dan Australia), sekitar 15 – 18%. Sedangkan pada ras Asia, menurut data Biro Pusat Statistik 2010, hanya kurang dari satu persen penduduk Indonesia, atau sekitar 1,2 juta orang yang memiliki rhesus negatif.

Grafik pemilik darah rhesus negatif di Indonesia. (Sumber: RNI: www.rhesusnegatif.com)
Grafik pemilik darah rhesus negatif di Indonesia. (Sumber: RNI: www.rhesusnegatif.com)

RNI sendiri per 10 Februari 2015  memiliki database hanya 1.296 orang se-Indonesia dengan rhesus negative. Dari jumlah ini, 150 orang berada di Kalimantan, dan Kaltim  70 orang. Sementara data di PMI Balikpapan saat ini baru tercatat 9 orang pemilik golongan rhesus negative yang terdiri dari golongan A- hanya 4 orang, golongan O- juga 4 orang dan AB- satu orang, sedangkan B- tidak ada sama sekali.

Dengan kondisi ini, membuat Lie harus mencari donor yang serupa dengan darahnya ke luar Balikpapan. Lie pernah mendatangkan dari Surabaya, Bandung, Jakarta, di samping daerah Kaltim seperti Tanah Grogot dan Sanggata. Biaya pengolahan darah di PMI setempat berbeda-beda, ditambah lagi biaya pengiriman, yang biayanya setara satu tarif tiket pesawat.

Sebagai contoh apabila darah diperoleh di Surabaya, biayanya mencapai Rp1 juta perkantong sudah termasuk pengiriman ke Balikpapan. Apabila didatangkan dari Sanggata, biayanya agak murah, yakni Rp 550 ribu untuk biaya pengadaan darah, belum termasuk ongkos kirim apabila melalui travel dengan moda transportasi darat Rp100 ribu, tentu lebih mahal lagi bila pengiriman menggunakan pesawat.

“Saat ini saya sering cari di Sangatta, karena di sana ada dua orang donor pemilik darah B rhesus negative. Saya sangat berterima kasih sekali, walau selama ini tidak pernah bertemu. Hanya lewat telepon saja,” katanya.***

 

Uang Pengolahan Darah di Samarinda Tidak Bisa Di-reimburse (2)

Hal senada juga dialami oleh Mawar, salah satu pasien pemilik darah O rhesus negatif (O-) yang menderita penyakit kanker payudara. Wanita PNS di salah satu kantor Pemerintah Kota Balikpapan itu tengah menjalani perawatan lanjutan setelah kemoterapi dan pengangkataan payudara dalam dua kali operasi.

Mawar pasien pemilik golongan O rhesus negatif.(foto: gerbangkaltim/3gk)
Mawar pasien pemilik golongan O rhesus negatif.(foto: gerbangkaltim/3gk)

“Saat operasi kedua September lalu, saya memerlukan darah O rhesus negatif. Yang diperlukan 3 kantong, tapi hanya ada satu pendonor di Balikpapan. Atas bantuan Pak Sugi (Soegiran, Korwil RNI Kalimantan, Red) akhirnya dapat dua kantong lagi di Samarinda,” katanya ketika ditemui di depan Poli Ongkologi RSKD Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan baru-baru ini.

Diceritakannya, untuk pengadaan darah satu kantong di PMI Balikpapan itu dia tidak perlu mengeluarkan biaya, karena cukup dengan menunjukkan kartu perserta BPJS Kesehatan, Surat Elegibilitas Peserta (SEP) yang dikeluarkan BPJS Center dan surat permintaan darah dari rumah sakit. Namun, untuk pengadaan dua kantong darah yang diambil melalui PMI Samarinda harus mengeluarkan biaya Rp920 ribu, sebagai biaya pengolahan darah atau service cost.

“Kata petugas di PMI Samarinda nanti bisa diganti uang (reimburse,Red) di BPJS Balikpapan. Ternyata setelah ditanyakan kok gak bisa. Alasannya BPJS Balikpapan tidak ada kerjasama dengan PMI Samarinda,” katanya tanpa mempersoalkan. “Ya gak papa, sudah bersyukur dapat darahnya dan operasinya lancar,” tambahnya.

Kepala Unit Trasnfusi Darah (UTD) PMI Balikpapan dr Suryani Trismiasih, SpPK.(foto:gerbangkaltim/3gk)
Kepala Unit Trasnfusi Darah (UTD) PMI Balikpapan dr Suryani Trismiasih, SpPK.(foto:gerbangkaltim/3gk)

Kepala Unit Trasnfusi Darah (UTD) PMI Balikpapan dr Suryani Trismiasih, SpPK menjelaskan dalam pelayan darah untuk pasien yang memerlukan darah rhesus negatif apabila tidak tersedia, biasanya meminta kepada UTD lain, baik di Kalimantan maupun ke Jawa. Biaya pengolahan darah termasuk screening dan crossmatch, juga pengiriman ke Balikpapan harus ditanggung pasien.

“Jumlah biaya nonformal ini juga bervariasi tergantung kebijakan dari Unit Donor Darah (UDD) yang bersangkutan. Biasanya kami minta ke Surabaya dan Jakarta. Karena biayanya diluar penggantian darah, ya mohon maaf itu harus ditanggung pasien,” katanya.

Solusi yang akan dilakukan PMI Balikpapan yakni memberdayakan pendonor di Balikpapan karena di kota ini banyak komunitas dan orang asing yang kemungkinan terdapat rhesus negatif. Di samping itu menggencarkan sosialisasi ke perusahaan-perusahaan dan mengumpulkan database karyawan lengkap dengan golongan darah maupun rhesusnya.

Setiap bulannya, PMI Balikpapan memenuhi sekitar 1.800 kantong darah untuk keperluan transfusi. Darah diperoleh dari pendonor tetap yang rata-rata 1.500-1.800 kantong darah. “Dilihat rata-rata pemakaian dan darah yang tersedia masih imbang. Hanya saja pada bulan-bulan tertentu jumlah pendonor berkurang,” kata Suryani sembari menambahkan apabila ada pemilik darah rhesus negatif agar menghubungi Mindo sekretaris UDP PMI Balikpapan 0542-414522 atau ke nomor hp: 081347044341.

 

BPJS Tidak Kerjsama Langsung dengan PMI (3)

Susahnya mencari darah rhesus negatif dan tambahan biaya di PMI di luar tempatnya dirawat membuat beban tersendiri bagi Lie dan Mawar kendati keduanya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Padahal dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pelayanan darah termasuk yang dijamin, baik di pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan. (PerPres No. 12 tahun Tahun 2013 Pasal 20, 21, 22 dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 71 Tahun 2013 Pasal 16, 17, 18, 19, 20).

Kepala Departemen Manajemen Pelayanan Kesehatan BPSJ Regional VIII Kalimantan Octovianus Ramba. (foto: gerbangkaltim/3gk)
Kepala Departemen Manajemen Pelayanan Kesehatan BPSJ Regional VIII Kalimantan Octovianus Ramba. (foto: gerbangkaltim/3gk)

Kepala Departemen Manajemen Pelayanan Kesehatan BPSJ Regional VIII Kalimantan Octovianus Ramba menjelaskan mekanisme pembiayaan sekarang itu menggunakan pola tarif  Indonesian Case Base Groups ( INA-CBG’s). Intinya BPJS membayar ke faskes dalam hal ini rumah sakit secara paket berdasarkan dianogsa penyakit.

“Paket di sini sudah termasuk, biaya pemeriksaan, pengobatan, tindakan, termasuk penggunaan alat dan bahan habis pakai, seperti penyediaan darah maupun yang terkait. Tarifnya yang kita bayar itu sudah termasuk di dalamnya,” katanya ketika ditemui di kantornya, Jl. Ruhui Rahayu, Sepinggan Baru, Balikpapan.

Dengan pola tarif ini, maka ketersediaan alat, bahan habis pakai termasuk obat, menjadi wewenang dan tanggung jawab dari rumah sakit. Apabila rumah sakit punya sarana sendiri maka akan menggunakan sarana itu. Tetapi apabila tidak punya, maka akan membuat jejaring kerjasama dengan faskes yang lain, seperti laboratorium, apotik, dan PMI dalam hal penyediaan bahan-bahan penunjang tersebut.

“Jadi BPJS sebagai penjamin kesehatan hanya membayarkan sekali ke faskes dalam hal ini rumah sakit. Nanti rumah sakit  yang mengatur, berkoordinasi dengan jejaringnya  untuk penyiapan-penyiapannya, termasuk pengadaan darah yang bersifat khusus tersebut,” katanya.

Sesuai regulasi, sekarang BPJS Kesehatan tidak lagi bekerjasama langsung dengan PMI atau apotik dalam pengadaan obat, tetapi BPJS Kesehatan hanya bekerjasama dengan rumah sakit. Kecuali untuk kondisi-kondisi tertentu seperti obat kronis dan obat kemoterapi.

BPSJ Kesehatan Regional VIII Kalimantan, Jl. Ruhui Rahayu, Sepinggan Baru, Balikpapan. (foto:gerbangkaltim/3gk)
BPSJ Kesehatan Regional VIII Kalimantan, Jl. Ruhui Rahayu, Sepinggan Baru, Balikpapan. (foto:gerbangkaltim/3gk)

Sementara itu terkait adanya pasien BPJS yang memiliki darah langka (rhesus negatif) yang harus membayar biaya pengiriman dan pengolahan darah apabila mendatangkan darah dari luar daerah, hal ini sebenarnya dapat diatur bersama antara rumah sakit dengan PMI.

“Sampai saat ini, saya sendiri baru dengar kasus seperti ini. Mungkin selama ini kasusnya sedikit, sehingga belum teridentifikasi. Tetapi ini masukan buat kami untuk melakukan evaluasi bersama stakeholder terkait, baik itu bersama rumah sakit, ataupun dinas kesehatan. Kami evaluasi hal-hal seperti ini sehingga harapannya nanti tidak menjadi beban buat peserta,” katanya.(3gk)

 

Check Also

Manggar Jadi Perkebunan dan Beternak

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Calon wakil gubernur (cawagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Safaruddin memprediksi, kawasan Manggar, Balikpapan Timur, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *