Home » GerbangNews » Pil PCC Terungkap di Balikpapan
Ilustrasi PCC ilegal. (sumber: Kriminologi.id)

Pil PCC Terungkap di Balikpapan

PUBLIK dikejutkan dengan peredaran pil PCC di Sulawesi Tenggara pada hari Rabu tanggal 13 September 2017 dimana sebanyak 38 orang remaja usia sekolah dan mahasiswa menjadi korban akibat penyalahgunaan obat-obatan tersebut. Dari ke 38 pasien tersebut, 1 diantaranya meninggal dunia yang diketahui merupakan murid kelas 6 Sekolah Dasar.

Kemudian pasien yang menjalani perawatan tersebar di 5 Rumah Sakit antara lain 26 orang di Rumah Sakit Jiwa Kendari, 4 orang di Rumah Sakit Bhayangkara Provinsi Sulawesi Tenggara, 5 orang di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari, 2 orang di Rumah Sakit Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara dan 1 orang di Rumah Sakit Korem 143 Kendari.

Tidak lama setelah itu, Polres Balikpapan berhasil mengungkap kasus peredaran pil Paracetamol, Cafein dan Carisoprodol (PCC) yang siap dijual alias diedarkan di Kota Beriman, Balikpapan. Sebanyak 600 butir pil PCC diamankan dari tangan salah satu warga jalan Pangeran Antasari RT 63 Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah, berinisial Sur akhir September 2017 lalu.

Polisi yang mengetahui adanya PCC di tangan Sur berdasarkan informasi dari masyarakat, langsung memeriksa rumah lelaki berusia 37 tahun itu yang hasilnya menemukan ratusan pil terlarang dalam kondisi siap edar. Menurut pengakuannya, barang tersebut didapatkan dari seorang kawannya berinisial B yang dipasok langsung dari pulau Jawa. “Saya baru jualan kurang lebih sebulan, barang dari kawan, orang Balikpapan juga,” ujar Sur singkat.

Meski baru sebulan berjualan, Sur mengaku telah menjual 3 box alias 30 setrip di Kota Balikpapan. Barang tersebut dijualnya kepada para pelanggan yang rata-rata sebayanya. “Selama ini saya sudah jual 3 box, satu box isi 10 setrip, satu setrip isi 10 pil. Per butir dijual Rp 3.500, jadi kalau satu setrip Rp 35 ribu. Selama jualan ini untung saya baru Rp 150 ribu, sudah keburu ketangkap.

Kini, Sur beserta ratusan butir PCC telah diamankan di Mapolres Balikpapan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 197 jo pasal 196 dengan ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara, ujar Kapolres Balikpapan.

Penjelasan tentang PCC. (sumber: BNN)

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan pil PCC ? Berdasarkan penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, PCC kepanjangan dari Paracetamol Cafein Carisoprodol dimana Carisoprodol ini digolongkan sebagai obat keras dan mengingat dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya alias berbahaya, maka seluruh obat yang mengandung Carisoprodol dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013. Selanjutnya mengapa PCC itu berbahaya? Berikut penjelasannya :

  1. PCC adalah obat illegal, tidak pernah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia
  2. Berdasarkan hasil uji laboratorium, PCC mengandung Carisoprodol yang memiliki banyak efek samping antara lain Euforia, Halusinasi, Kejang hingga menyebabkan kematian
  3. Oleh karena marak penyalahgunaannya, maka seluruh obat yang mengandung Carisoprodol lainnya yang pernah mendapat izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, telah dibatalkan izin edarnya tahun 2013

Kemudian, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia juga menjelaskan  obat lain yang mengandung Carisoprodol telah dibatalkan izin edarnya antara lain :

  1. CARNOPHEN (Tablet)
  2. RHEUMASTOP (Tablet dan Tablet salut selaput)
  3. SOMADRIL COMPOSITUM (Tablet salut selaput)
  4. NEW SKELAN (Kapsul)
  5. CARSIPAIN (Tablet)
  6. CARMINOFEIN (Tablet)
  7. ETACARPHEN (Tablet)
  8. CAZEROL (Kaptabs)
  9. BIMACARPHEN (Tablet)
  10. KARNOMED (Tablet)
Pengecekan obat-obatan ilegal seperti PCC oleh petugas di wilayah Nunukan, Kalartara. (sumber: Poldakaltim.com)

Obat-obatan tersebut diatas harus diwaspadai masyarakat peredaran dan penyalahgunaannya karena Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia sudah membatalkan izin edarnya alias illegal karena ada aturan hukum dan ancaman hukumannya bagi pelaku kejahatan tersebut.

Lalu, apa dan dimana hukum yang mengatur dan bagaimana sanksi hukuman terhadap pelaku kejahatan peredaran dan penyalahgunaan pil PCC ? Sebagaimana konferensi pers Kapolres Balikpapan yang menyatakan bahwa pelaku peredaran pil PCC dapat dikenakan Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 197 jo pasal 196 dengan ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.

Selengkapnya pasal 197 UU Kesehatan berbunyi : “Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000 (satu miliar lima ratus juta rupiah)”

Pasal 196 UU Kesehatan berbunyi : “Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standard dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud dalam pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah)”

Pengertian sediaan farmasi sesuai pasal 1 ayat (4) UU Kesehatan adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika, sedangkan yang dimaksud alat kesehatan sesuai pasal 1 ayat (5) UU Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.

Obat sebagaimana dimaksud pada pasal 1 ayat (8) adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.

Sedangkan obat tradisional diatur pasal 1 ayat (9) adalah bahan atau ramuan bahan, yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Sebagai komponen bangsa, masyarakat diharapkan kerjasama dan perhatiannya dalam membantu aparat kepolisian bersama instansi terkait untuk mengungkap peredaran pil PCC yang sudah jelas terlarang serta menegakkan hukum kepada siapapun yang melakukan peredaran gelap dan kepemilikannya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. (tri widodo*)

*. Jurnalis tinggal di Balikpapan

 

 

Check Also

Kebakaran di Padat Karya Hanguskan Enam Kontrakan

Tana Paser, GERBANGKALTIM.COM – Kebakaran pada Kamis (21/6) subuh menghanguskan enam kontrakan di Jalan Sultan Iskandar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.