Home » GerbangNews » Sisi Lain Irjen Pol (Purn) Safaruddin
Cawagub Kaltim Safaruddin yang berpasangan dengan cagub Rusmadi, nomor 4, terjun langsung di tengah banjir di wilayah Samarinda.

Sisi Lain Irjen Pol (Purn) Safaruddin

Faizal Reza yang dikunjungi Safaruddin.

PENGAKUAN Rita Widyasari, Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) non aktif, bahwa bukan Irjen Pol (Purn) Safaruddin sebagai aktor di balik kasus pidana yang menjeratnya, membuat publik kian penasaran tentang sosok mantan Kapolda Kaltim itu. Walau dia seorang perwira tinggi Polri berpangkat Inspektur Jenderal, tidak banyak yang mengetahui kalau Dia adalah sosok yang sederhana.

Pria kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 10 Februari 1960 ini, sama dengan warga lainnya. Dia sangat tersentuh ketika melihat warga kesulitan dalam bertaruh hidup. Hatinya bergolak saat warga tidak bisa tidur lelap karena ‘ketakutan’ akan datangnya banjir ketika hujan turun lebat.

Barangkali banyak yang menjadi sinis ketika Safaruddin dengan gamblang mengatakan; “Samarinda kota tidak

Ketika menanam padi bersama petani.

layak huni”. Atau ketika dia turun ke sawah menolong petani yang sedang menanam padi di sebuah desa Kutai Kartanegara.

Suatu waktu, Safaruddin dengan santai menikmati nasi pecel di Pasar Rahmat Samarinda. Atau ngopi bersama warga di warung kaki lima. Sesekali dia juga mengambilalih pekerjaan penjaja gorengan pisang.

Soal ucapannya tentang Samarinda kota tidak layak huni, disampakan oleh Safaruddin bukan tanpa data. Itu hasil sebuah survei sebuah lembaga nasional tentang kota-kota di seluruh Indonesia. Safaruddin tidak punya niat untuk memojokkan pemimpin Kota Samarinda, namun lebih membela kepentingan warga kota yang terus menerus dihantui rasa waswas ketika banjir tiba.

Cagub Safaruddin goreng pisang/sanggar.

Itu sekilas sisi lain Safaruddin. Lulusan Akpol 1984 ini ternyata juga punya rutinitas saban Jumat, yakni menjadi khatib atawa penceramah. Kepercayaan umat itu kerap diberikan kepadanya jauh sebelum Pilgub Kaltim. Bukan hanya pada saat kampanye yang mengesankan kegiatan itu sebagai pencitraan.

Safaruddin juga punya sisi humanis yang baru diketahui segelintir masyarakat. Contohnya, ketika Dia mendatangi Faizal Reza, warga Balikpapan yang menderita kanker stadium 4.

Hati Safaruddin bergetar saat mendengar kabar ada salah seorang warga yang tengah dirawat di rumahnya. Sontak kondisi ini membuat Safaruddin terenyuh. Secara spontan, setelah mendapat informasi melalui telepon genggamnya Dia bergegas mendatangi rumah Faisal Reza.

Alamat detail pun ia minta dengan tim relawan yang mengabarkan kepadanya. Belakangan diketahui merupakan warga kawasan Beje-Beje, Jalan Asnawi Arbain  RT 34, Balikpapan Selatan.

“Saya apresiasi kerja kawan-kawan dari tim relawan ketika bertemu dengan masyarakat. Harus peka dengan kondisi yang ada. Misalnya ini, ada penderita kanker stadium 4 langsung mengabarkan melalui telepon ke saya,” ucap Safaruddin.

Ketika Safaruddin menjadi Khatib Sholat Jumat di sebuah masjid.

Tiba di lokasi rumah Faisal yang sempit, dan ternyata berstatus rumah kontrakan. Jenderal polisi bintang dua yang baru memasuki masa pensiun itu melihat Faisal tergolek lemah di pembaringan. Menurut keterangan keluarganya, dia menderita kanker cukup lama hingga terus menggerogoti fisik tubuhnya.

Kanker itu menyerang tengkorak kepala bagian depan, dekat matanya sebelah kiri. Adanya pembengkakan membuat pandangan pengelihatan kedua mata terganggu, bahkan sudah tidak bisa melihat. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di pembaringan.

Padahal, Faisal merupakan kepala keluarga yang menjadi tulang punggung bagi istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Karena saat ini sudah tidak bekerja lagi, kehidupan sehari-hari keluarga ini bergantung dari isterinya yang berjualan jajanan anak-anak di rumah.

“Insya Allah masalah seperti ini jadi perhatian kita. Tidak boleh lagi ada warga tidak mampu yang takut berobat seperti Pak Faisal ini,” kata Safaruddin. Ketika menjadi Rusmadi-Safaruddin menjadi Gubernur dan wakil gubernur, iuran BPJS bagi warga yang tidak mampu akan ditanggung pemerintahannya.

Safaruddin banyak bercerita tentang tuduhan minor terhadap dirinya. Dalam kasus Rita Widyasari, Bupati Kukar (non aktif), dia dipojokkan oleh isu bahwa dirinya berada di balik tertangkapnya Rita oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Satu lagi kelebihan Safaruddin. Walau isu itu begitu kencang dan semakin menjadi ketika dijadikan bahan ‘gorengan’ lawan politiknya menjelang Pilgub, tapi dia tidak berusaha membantahnya. Sampai akhirnya Rita Widyasari sendiri yang memberi bantahan atas isu tersebut.

Rita dalam wawancara dengan Wartawan mengakui memang ada isu tentang “aktor” di balik kasus yang menimpanya. Namun dia memastikan, semua itu adalah fintah yang ditujukan kepada mantan kapolda Kaltim Safaruddin.

“Tidak. Itu isu. Saya tidak melihat secara gamblang. Namanya isu, ya itu fitnah yang tidak bisa dibuktikan,” ucap Rita, ketika dikonfirmasi wartawan usai menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Atas pernyataan penting itu, Safaruddin yang dikejar wartawan untuk diminta tanggapannya mengaku lega atas klarifikasi langsung dari Rita yang menyebut namanya tidak terkait atas kasus tersebut.

“Saya bersyukur, kebenaran itu akhirnya terbuka juga dan tidak akan pernah dikalahkan oleh fitnah. Sekalipun kebenaran itu kadang terpinggirkan untuk sementara,” ucapnya.

Begitu sisi lain Safaruddin yang belakangan ini popularitas dan elektabilitasnya bersama Cagub Safaruddin semakin baik. Pasangan ini sudah sepakat, bahwa menjadi gubernur dan wakil gubernur kelak bukan untuk mengejar ambisi politik, tapi sebagai ladang ibadah. #4trs

Check Also

Warga Liang Ulu Dukung Rusmadi-Safaruddin

Kota Bangun, GERBANGKALTIM.COM,- Sebagian warga Desa Liang Ulu Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *