Home » Surat Terbuka untuk Presiden

Surat Terbuka untuk Presiden

mangrove-2TERUNTUK Pak Presidenku di Ibu Kota Negara, saya memang hanya seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak dan dua orang cucu. Usia saya sekarang 48 tahun, dan tinggal di kawasan Kampung Baru, Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur. Sebagai orang kecil, saya tidak tahu apakah Pak Presiden sudah pernah berkunjung ke PPU, sebuah kabupaten kecil, tapi berprospek menjadi salah satu kabupaten yang akan berkembang di masa mendatang. Apalagi dengan keberadaan sebuah perusahaan Migas (Minyak dan Gas Bumi) yang telah lama beroperasi, yakni Chevron Indonesia Company (CICo).
Saat sekarang ini, saya dan beberapa anggota Kelompok Usaha Wanita (KUW) “Bina Bersama” yang saya pimpin sedang berada di kerimbunan dan kehijauan pohon-pohon mangrove/bakau yang tak jauh dari rumah kediaman kami yang sebagian besar adalah nelayan dan petani di Kampung Baru PPU. Mangrove-mangrove itu mulai kami tanam pada tahun 2003 silam dimana bibitnya merupakan swadaya dan bantuan dari CICo. Jumlahnya belum begitu banyak, baru sekitar 1000 bibit.
Pak Presiden, saya dan sebagian besar warga di Kampung Baru belum pernah menginjakkan kaki di Ibu Kota Negara, Jakarta. Tapi kami sudah sering menonton dan mendengar berita di layar televisi tentang Jakarta yang selalu kebanjiran setiap musim penghujan, karena hutannya semakin tandus, termasuk hutan mangrovenya. Dan dimusim kemarau Jakarta akan kekeringan.
Tentu kondisi Jakarta dan daerah-daerah lain di Pulau Jawa, berbeda dengan kondisi di kampung saya, Kampung Baru PPU. Di Kampung Baru ini kami masih bisa menghirup udara yang segar, karena kelestarian alamnya masih terjaga. Semua itu tidak terlepas dari peranserta CICo yang tidak menutup mata dengan daerah operasinya. Sungguh merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.
Memang, dari sekian ribu bibit mangrove yang ditanam di lahan seluas 2 ha pada 2003 dan kini sudah seluas 10 ribu ha, tidak semua berhasil tumbuh. Banyak juga yang mati, sehingga harus dilakukan penggantian pohon atau penyulaman bibit-bibit tersebut. Pada Februari 2012 lalu, juga atas sumbangsih dari CICo, saya dan para anggota KUW Bina Bersama dibantu para suami kami serta anak-anak kembali menanam 10.000 bibit bakau.
Sekarang sudah menjelang akhir tahun 2013, hutan mangrove/bakau itu telah tumbuh dengan baik, tetapi saya dan KUW Bina Bersama tak lantas berpangku tangan, tetap menjaga dan merawat mangrove/bakau tersebut. Dampaknya, lingkungan tempat tinggal saya di Kampung Baru semakin asri. Apakah juga di Jakarta ada hutan mangrove/bakau yang merimbun hijau, Pak Presiden?
Apa yang dilakukan CICo dengan konservasi hutan mangrove di Kampung Baru PPU merupakan dukungan pada pemerintah untuk menjadikan hutan mangrove sebagai ekosistem pantai. Hutan juga merupakan bendungan alami karena 170-230 liter/hari dapat dihisap oleh tanah di sekeliling akar pohon yang kemudian meresap jauh ke dalam tanah.
Pak Presiden, sungguh saya dan semua warga Kampung Baru sangat berterima kasih dengan CICo yang tidak saja menyedot hasil bumi dimana perusahaan tersebut beroperasi, namun juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian alam di sekitarnya. Apakah di Jakarta juga ada perusahaan yang demikian, Pak Pesiden?
Pak Presiden Yang Terhormat, tolong juga kabarkan kepada Menteri ESDM Dan Menteri Kehutanan, bahwa di Kampung Baru Penajam, alamnya tetap terjaga dengan baik. Hutan mangrove/bakau di sepanjang pantai juga merimbun subur dengan daun-daunnya yang menghijau menyejukkan mata yang memandangnya. Semua itu karena masyarakat Kampung Baru PPU hidup rukun dan harmonis dengan perusahaan CICo, meski hanya bermatapencaharian sebagai nelayan dan petani.(Herry Trunajaya BS)

Check Also

Manggar Jadi Perkebunan dan Beternak

Balikpapan, GERBANGKALTIM.COM,- Calon wakil gubernur (cawagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Safaruddin memprediksi, kawasan Manggar, Balikpapan Timur, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *