GERBANGKALTIM.COM. Perjalanan nasib kadang membuat kehidupan seseorang berputar arah. Siapa sangka, tadinya bekerja di sejumlah hotel berbintang di Malang dan Balikpapan, pria kelahiran Balikpapan 18 Februari 1980 ini, justru banting stir menekuni dunia seni lukis. Bukan seni lukis biasa, tapi seni lukis air brush.

“Iya, saya pernah bekerja di sejumlah hotel berbintang di Malang Jawa Timur dan di Balikpapan. Tapi sejak tiga tahun lalu memutuskan berhenti dan kini total mencari nafkah sebagai pekerja seni,” kata Panca saat ditemui media ini tengah melukis kaos air brush di sela acara reuni akbar alumni SMPN 2 Balikpapan, di halaman parkir gedung Dome, Minggu (27/1).

Alumni Universitas Merdeka Malang ini menuturkan, usai lulus sekolah, ia lalu bekerja di sejumlah hotel di Malang. Lalu, saat pindah ke Balikpapan, dirinya sempat bekerja di Hotel Zurich dan Hotel Gran Senyiur.

Namun, bapak satu anak ini kemudian memutuskan total menjalani hidup sebagai pekerja seni—khususnya seni lukis kaos air brush. “Bisa disebut, saya pelopor seni lukis kaos air brush di Balikpapan, karena hingga kini baru ada 2 orang yang melakoninya di Kota Minyak,” tutur pemilik Ell Brush yang membuka galeri di rumahnya di kawasan Bukit Prona Indah Sepingggan ini.

Panca mengakui, ia tidak belajar secara khusus saat menjalani usaha seni lukis air brush ini. “Dasar saya hanya hobi menggambar sejak kecil. Makanya, saat bekerja di sejumlah hotel, hobi itu tidak pernah hilang. Lalu, saya tetap melukis cari tambahan sambil bekerja di hotel,” ucapnya.

Sejak tahun 2006 ia menemukan teknik melukis air brush kaos dan di tahun 2008 ia sempat membuka lapak di Hypermart Balikpapan. Sebelum melukis air brush dengan media kaos, Panca sudah terbiasa melukis di kanvas dan berlanjut lukisan air brush otomotif, sepeda motor dan mobil.

Namun sebagai pegiat seni lukis air brush, keahliannya cukup banyak. Panca mengaku, bisa membuat karya body painting, face painting, hingga lukisan di tekstil seperti kaos, topi, sepatu, tas dan lainnya. Ia juga mampu melukis mural, drawing pencil, live performance hingga air brush kanvas.

DIPESAN BULE DAN BUPATI

Karena produknya merupakan karya seni kreatif, lanjut Panca, tentu harga jual lukisan kaos air brushnya juga tidak sama dengan kaos yang ada di pasaran. “Umumnya saya tawarkan Rp 200 ribu per kaos. Tapi, kalo pelanggan bawa kaos sendiri, saya hargai hanya Rp 150 ribu,” tutur pria ramah ini.

Meski begitu, kaos air brush Panca, pernah pula laku terjual Rp 500 ribu, bahkan pernah dibeli bule (turis asing) seharga Rp 1,2 juta. Ia juga pernah membuatkan lukisan kaos air brush pesanan Bupati Penajam Paser Utara. Yakni, mantan Bupati PPU Andi Harahap dan Bupati PPU saat ini, Abdul Gafur Mashud dan isteri. “Kalau masyarakat umum, sudah tidak terhitung. Yang pasti, mengerjakan satu lukisan kaos air brush perlu waktu sekira 1 jam,” beber Panca yang kini membuat komunitas “Brush Borneo Community”.

Pasar lukisan kaos air brush di Kaltim khususnya Balikpapan, lanjut Panca, masih cukup besar. Hanya saja, ia sejauh ini lebih banyak memasarkan hasil karyanya secara online via media sosial. Namun, tidak jarang, ia juga ikut dalam berbagai event.  “Omset saya rata-rata Rp 3-5 juta perbulan. Tapi pernah juga tembus hingga Rp 8 juta sebulan saat membuka lapak di Long Ikis 1 tahun,” ujarnya.

RUANG RUPA BALIKPAPAN

Terdorong menghimpun para pekerja seni lukis di Kota Minyak, Panca juga mempelopori digelarnya even “Ruang Rupa Balikpapan”, bertema “Semang Art”. Rencananya, event  ini dilaksanakan di Kafe Indy pada 23-30 Maret 2019 mendatang.

Even ini, akan diikuti pegiat seni lukis lintas generasi, dari tahun 1980-an hingga generasi pelukis sekarang. “Ada sejumlah kegiatan yang akan kami laksanakan dalam even itu. Antaralai, pameran lukisan, lomba, workshop, hingga sarasehan pekerja seni,” tutur Panca yang dipercaya menjadi ketua panitia.

Yang pasti, sebut dia, Ruang Rupa Balikpapan hanya sekadar wadah silaturahim dan berhimpun para pekerja seni, khususnya seni lukis. Jadi, bukan sebuah organisasi atau lembaga. “Kami hanya ingin menampung beragam bentuk kreativitas pekerja seni lukis di Balikpapan,” tutupnya.(*)

PENULIS        : RUDI R. MASYKUR
EDITOR          : RUDI R. MASYKUR