PUNCAK pemilu pada Rabu, 17 April 2019 yang ditandai dengan pencoblosan sudah kita lalui. Masyarakat banyak yang ber-swafoto (selfi) dengan jari yang sudah dicelupkan ke tinta.  Mencoblos. Tanda sudah memakai  hak memilih sebagai warganegara.

Tak ada kegaduhan-kegaduhan yang sebelumnya dikhawatirkan berberapa pihak. Warga dengan tertib mendatangi tempat-tempat pemunguntan suara (TPS). Bahkan mereka berbondong-bondong bersama keluarga. Meereka memanfaatkan hari libur nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Ya agar semasimal mungkin warga Indonesia yang telah memiliki hak pilih, bisa mencoblos di hari itu.

Kini prosesnya tinggal menunggu penghitungan suara yang dilakukan secara berjenjang. Mulai dari TPS, tingkat kecamatan, tingkat kota, tingkat provinsi hingga rekapitulasi secara nasional. Prosesnya masih berlangsung, dan cukup banyak informasi-informasi negatif tentang pelaksanaan pemilu. Hal ini sudah diprediksi, dan bakal akan tambah ramai hingga nanti saat penentuan atau pengumuman siapa pemenang pemilu 2019 oleh KPU.

Dua personel Polda Kaltim yang meninggal saat bertugas dalam pengamanan Pemilu serentak 2019. (foto: poldakaltim.com)

Yang memprihatinkan dan tak terduga sebelumnya, justru banyaknya para petugas pemilu yang meninggal. Ada yang dari masyarakat sipil maupun aparat. Seperti di Kaltim, tercatat 2 orang anggota Polisi Polda Kaltim yang meninggal saat melaksanakan tugas pengamanan.  Sedangkan dari petugas KPPS tercatat 5 orang yang dikabarkan juga meninggal.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat jumlah korban meninggal di DKI Jakarta sebanyak 22 jiwa, Jawa Barat 131 jiwa, Jawa Tengah 44 jiwa, Jawa Timur 60 jiwa, Banten 16 jiwa, Bengkulu tujuh jiwa. Disusul dari  Kepulauan Riau terdapat tiga jiwa, Bali dua jiwa, Kalimantan Selatan delapan jiwa, Kalimantan Tengah tiga jiwa, Kalimantan Timur tujuh jiwa, Sulawesi Tenggara enam jiwa, Gorontalo tidak ada, Kalimantan Selatan 66 jiwa, dan Sulawesi Utara dua jiwa.

Kemenkes merinci dari data yang meninggal tersebut sementara disimpulkan akibat 13 jenis penyakit ykni: infarct myocard, gagal jantung, koma hepatikum, stroke, respiratory failure, hipertensi emergency, meningitis, sepsis, asma, diabetes melitus, gagal ginjal, TBC, dan kegagalan multiorgan. Sedangkan dilihat usia yang meninggal berada pada kisaran 50-59 tahun.

Duka, tentu menyelimuti keluarga yang ditinggalkan. Prihatin sudah pasti, bagi semua penyelenggara pemilu.  Bahkan Presiden RI Joko Widodo mengungkapkan belasungkawa. Duka cita yang mendalam,  atas meninggalnya sejumlah petugas KPPS dan aparat lainnya dalam Pemilu 2019.

” Saya kira beliau ini adalah pejuang demokrasi yang meninggal dalam tugasnya. Sekali lagi, atas nama negara dan masyarakat, saya mengucapkan duka yang sangat mendalam.”

Memang pemilu tahun 2019 yang dilakukan secara serentak cukup menguras tenaga dan pikiran. Sejak pra pencoblosan, hingga puncaknya pada hari H pencoblosan. Komisioner KPU Hasyim Asyari berpendapat, petugas KPPS yang meninggal ini tidak terkait dengan sistem pemilu serentak yang diterapkan saat ini.

Prosesi pemakaman.(foto: poldakaltim.com)

Hal senada juga diungkapkan  Ketua KPU Arief Budiman. Kendati banyak korban,  terlalu dini jika menyimpulkan Pemilu 2019 telah gagal. Tahapan pemilu masih berjalan, bahkan rekapitulasi belum selesai.  Bahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto menilai sudah berjalan baik. Tidak ada gangguan keamanan selama penyelenggaraan pemilu.

Petugas KPPS dan petugas lainnya yang meninggal itu sebagai pahlawan demokrasi. Harus kita hargai. Mereka betul-betul sudah melakukan tugasnya dengan baik. Semoga perjuangannya membuahkan pemimpin yang amanah dan membawa kebaikan bagi seluruh bangsa Indonesia. (tri widodo)

*. Penulis, jurnalis tinggal di Balikpapan.