KORPS Polri disebut juga sebagai korps Bhayangkara mengacu ke kesatuan Bhayangkara pada masa kerajaan Majapahit.

Bintang Bhayangkara, begitulah nama penghargaan yang dianugerahkan Kepolisian Negara Republik Indonesia kepada anggotanya yang telah menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, sekaligus ketabahan luar biasa menjalankan kewajibannya tanpa merugikan tugas pokok. Penganugerahan ini bisa juga diberikan kepada pihak atau individu yang bukan anggota Polri namun punya jasa besar dalam membantu tugas, kewajiban dan kemajuan Polri.

Pada Agustus 2018 lalu, misalnya, Bintang Bhayangkara utama diberikan kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Menteri Puan dinilai berjasa karena telah bersinergi dengan kepolisian dalam menanggulangi terorisme dan radikalisme.

Yang juga menerima bintang Bhayangkara utama pada waktu yang bersamaan adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki hHadimuljono, Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Yuyu Sutisna dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Siwi Sukma Adji.

Landasan hukum pemberian bintang Bhayangkara adalah undang-undang nomor 14 tahun 1966 tentang tanda kehormatan Bintang Bhayangkara dalam kategori nya Bintang Bhayangkara utama merupakan penghargaan tertinggi. Selain itu ada juga Bintang Bhayangkara Pratama dan Bintang Bhayangkara Nararya.

Apel upacara Hari Bhayangkara jajaran Polda Kaltim. (foto: ist)

Bhayangkara memang nama lain dari Polri, yang memiliki akar pada masa kerajaan Majapahit. “Bhayangkara merupakan nama pasukan yang terdiri dari prajurit prajurit pilihan pada masa kerajaan Majapahit. Pada awal pembentukannya hanya terdiri dari 15 orang yang dikepalai bekel Gajahmada. Tugasnya menjaga ketentraman, ketertiban, penegakan peraturan, sekaligus sebagai pengawal pribadi raja dan kerajaan Majapahit,” ungkap kepala pusat sejarah Polri Brigadir Jenderal Polisi Istohari Winarto di laman Tribratanews.polri.go.id.

Dalam perkembangannya, selanjutnya, Bhayangkara masa kerajaan Majapahit itu juga mengemban tugas menegakkan peraturan perundangan serta pengawasan perdagangan. “Waktu Raja Jayanegara memimpin Kerajaan Majapahit terjadi beberapa pemberontakan. Pemberontakan yang paling berbahaya di Pimpin oleh Rakuti. Namun, berkat bantuan 15 pasukan Bhayangkari yang dipimpin Gajah Mada, Raja Jayanegara dapat diungsikan ke suatu tempat yang aman yaitu di desa Bedander. Di tempat pengungsian, Gajah Mada tidak mengizinkan anggota pasukan Bhayangkara keluar,” tutur Brigjen Istu lagi.

Gajah Mada juga memberikan amanat yang wajib ditaati dan dijalankan anggota pasukan Bhayangkara. Pertama Bhayangkara Satyahaprabu artinya “setia kepada negara dan raja”, karena raja merupakan penjelmaan Tuhan di dunia. Dengan demikian, apabila setia dan patuh kepada raja berarti setia dan patuh juga terhadap Tuhan. Karena itu, apa yang dikatakan oleh raja itu berarti sama dengan perintah Tuhan Yang Harus dipatuhi.

Amanat kedua: Bhayangkara Hanyaken Musuh, yakni bertindak untuk selalu menyiapkan musuh, baik musuh negara maupun musuh masyarakat. Karena, pada waktu itu ada anggota Sapta Dharma Putra yang ingin membunuh raja dan ingin merebut takhta kerajaan. Juga dikhawatirkan akan ada sekelompok pengacau, begal, yang menjadi pengganggu ketentraman kerajaan.

Ketiga: Bhayangkara Gineung Pratidina, yakni tekad mempertahankan negara. Tekad ini dihubungkan Gajah Mada dengan situasi yang dihadapi saat itu, yakni Raja Jayanegara yang meninggalkan ibukota dan tahta kerajaan Majapahit diduduki oleh Rakuti. “Melalui tekad ini, Gajah Mada berusaha membangkitkan kembali semangat dan meningkatkan kualitas pengabdian pasukan Bhayangkara untuk mempertahankan negara dan merebut kembali Kerajaan Majapahit dari Rakuti,” kata Brigjen Istu.

Amanat keempat: Bhayangkara Tan Satrisna, yang merupakan sikap yang muncul dari hati nurani yang ikhlas tanpa pamrih tidak terikat oleh sesuatu atau hadiah.

Amanat itu perlu disampaikan Gajah Mada kepada anggota Bhayangkara Karena pada saat yang sama Rakuti menggelar sayembara, bagi siapa saja yang dapat menunjukkan tempat Raja Jayanegara akan diberi hadiah 1 pundi-pundi uang emas.

ERA SINGHASARI

Sebenarnya sebelum berdirinya kerajaan Majapahit, kerajaan Singasari pada abad ke-8 ke-13 telah membentuk pasukan Bhayangkara lebih dulu. Pembentukannya dilakukan atas titah Raja Kertanegara.

Salah satu prosesi Hari Bhayangkara. (foto: ist)

Dalam kitab Pararotan, pada masa kerajaan Singhasari tugas penjagaan, peraturan, pengawalan, dan patroli untuk mengayomi, melindungi, melayani, dan penegakkan hukum diserahkan ke alat negara kerajaan yang disebut Bhayangkara namun selain di Pararaton tak ada lagi catatan tentang pasukan Bhayangkara Singhasari.

Berbeda dengan Bhayangkara di masa kerajaan Majapahit. Selain di Pararaton, Bhayangkara Majapahit juga digambarkan dalam kitab Desawarnana atau lebih dikenal sebagai Kitab Nagarakertagama, yang ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365. Sebagai informasi, pada tahun 2008 lampau, Negarakertagama diakui oleh UNESCO sebagai salah satu memori dunia.

Dalam Pupuh IX Negarakertagama dijelaskan, sehubungan dengan mangkatnya tohjaya di katang lambang pada tahun 1248 di daerah Pasuruan, diantara barisan pengawal yang berkewajiban menjaga keamanan Keraton adalah Kesatuan Bhayangkara.

Seperti juga telah diungkap oleh Brigjen istu, di tangan Gajah Mada, kesatuan Bhayangkara menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh pada masa kerajaan Majapahit sehingga keselamatan para raja dan keluarganya berada mutlak di bawah kewenangan dan tanggung jawab Bayangkara.

Di waktu itu juga, Kesatuan Bhayangkara telah memberikan kepercayaan yang sangat kuat di hati masyarakat sebagai pengayom dan pelindung rakyat Gajah Mada bersama pasukan Bhayangkara kemudian berhasil memukul balik Ra Kuti dan mendudukkan kembali Jayanegara ke istana untuk kedua kalinya. Setelah Jayanegara meninggal, Majapahit dipimpin oleh Tribhuana Tunggadewi pada tahun 1334.

Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah penguasa ke-3 Majapahit yang memerintah dari tahun 1328 sampai tahun 1351. Prasasti Singasari (1351) mengungkapkan yang diberi gelar ABC Kanya ialah Sri-Tribhu-Wanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Nama asli Tribhuwana-Wijayatunggadewi adalah Dyah Gitarja, putri dari pasangan Raden Wijaya dan Gayatri. Tribhuana Tunggadewi-lah yang kemudian mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit. Kedudukan Mahapatih ini kalau zaman sekarang seperti kedudukan seorang perdana menteri.

AKAR SEJARAH

Kesatuan Bhayangkara di bawah kepemimpinan Gajah Mada ini berperan besar dalam menghantarkan Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Itu sebabnya, Polri pun mengadopsi sebutan Bhayangkara yang mengacu ke Kerajaan Majapahit, sebagai penggugah semangat korps nya untuk melayani bangsa dan negara sekaligus sebagai upaya untuk tak melupakan akar sejarah.

Di depan markas besar Polri pun kemudian didirikan Patung Gajah Mada, yang diresmikan pada hari jadi Polri 1 Juli 1962. Sebelumnya seperti terungkap dalam biografi Jenderal Polisi R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo yang ditulis Awaloedin Djamin (mantan Kapolri 1978-1982) dan G. Ambarwulan, lambang kepolisian adalah patung Sinar dan bayangan berwujud patung dua manusia tidak sempurna (pendek), yang menggambarkan hujwala (getaran) pribadi sang Begawan Ciptoning (Arjuna) dan Sri Kresna. Patung tersebut diresmikan pada 1 Juli 1955.

Patung itu melambangkan Tri Brata sebagai pedoman kepolisian, yang bersifat sederhana dalam menghadapi sukses yang dicapai, satria dalam mengabdi kepada bangsa dan negara, dan waspada dalam segala hal.

Makna kedua: sebagai warna simbol kepolisian, yaitu kuning (sinar disamakan dengan pikiran) dan hitam (bayangan diartikan selalu menjaga dengan watak kepribadian kepolisian). Makna ketiga: Sebagai lambang 17 Agustus 1945, yang disimbolkan dalam bentuk obor yang dipegang Arjuna dan dijaga oleh Sri Kresna.

Selain patung tersebut ada pula pahatan yang terletak di tiang berbentuk lingkaran, yang menggambarkan bagian-bagian kepolisian, meliputi pendidikan umum, reserse, mobil Brigade, lalu lintas dan sebagainya.

Bangunannya didirikan pada dasar yang terdiri dari tujuh lapis, yang melambangkan angka suci, yang mengandung arti bersi, sebagaimana pandangan kitab Injil yang mengatakan dunia terbentuk dalam waktu 7 hari dan 7 malam dan Alquran yang menyebutkan adanya langit lapis ke-7 sebagai tempat bagi arwah manusia yang semasa hidupnya bersih.

Diungkapkan Awaloedin dan Ambar dalam buku itu pembuatan patung tersebut bermula dari Ilham yang diterima Soekanto, yang di kemudian dituangkan dalam bentuk patung oleh pemahat Nyoman Tjokro Soeharto. Menurut pembuatnya itu, patung tersebut melambangkan kepribadian polisi negara.

Arjuna memegang obor menyala dengan tangan kanannya dan Sri Kresna memperlihatkan sikap siap menjaga jangan sampai api tersebut padam. Namun, kemudian, patung itu diganti dengan Patung Gajah Mada.

Selamat Hari Bhayangkara Ke-73. Pengabdian Polri untuk masyarakat, bangsa dan negara.

(tri widodo)*

Jurnalis tinggal di Balikpapan