Artikel - August 20, 2019

Menjaga Dua Jantung di Kalimantan

Pemindahan ibukota ke Kalimantan bukan lagi sekadar wacana.  Presiden dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2019 telah resmi mengumumkan pemindahan ibukota dari Jakarta ke Kalimantan. Presiden minta izin langsung kepada rakyat. Melalui MPR, yang hadir dalam Sidang Tahunan di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta.

Kata Presiden: Dengan memohon ridho Allah SWT. Dengan meminta izin dan dukungan dari bapak ibu anggota dewan yang terhormat. Para sesepuh dan tokoh bangsa terutama dari seluruh rakyat Indonesia. Dengan ini saya mohon izin untuk memindahkan ibu kota negara kita ke Pulau Kalimantan.

Menurut Presiden, ibu kota baru dirancang bukan hanya sebagai simbol identitas, tetapi representasi kemajuan bangsa, dengan mengusung konsep modern, smart, and green city, memakai energi baru dan terbarukan, tidak bergantung kepada energi fosil.

Pidato Presiden ini disambut gembira dengan aplaus yang menggema di ruangan sidang. Terutama para wakil rakyat yang berasal dari Kalimantan. Termasuk di Kaltim (Kalimantan Timur) dan Kalteng (Kalimantan Tengah). Dua daerah ini memang sebelumnya sudah dijadikan alternatif pemindahan ibukota baru.

Awal Mei, Presiden sudah mengunjungi wilayah di sekitar Bukit Soeharto, Kutai Kartanegara.  Pada esok harinya Presiden mengunjungi wilayah Kalteng. Ada tiga wilayah yang ditawarkan Gubernur Kalteng yakni Palangka Raya dengan luas area sekitar 66 ribu hektare, Kabupaten Katingan dengan luas area sekitar 120 ribu hektare, dan Kabupaten Gunung Mas dengan luas area sekitar 121 ribu hektare.

Turut mendampingi Presiden antara lain Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimulyono, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil. Rombongan yang cukup besar dan menunjukkan keseriusan Presiden dalam pemindahan ibukota dari Jakarta.

Antusias menyambut pemindahan ibukota baru juga ditunjukan oleh ajaran pejabat di Kaltim. Termasuk di Pemerintah Kota Baikpapan. Yang nonton bareng pidato kenegaraan dan telah menyiapkan spaduk besar:  Terimakasih Presiden Jokowi. Ahamdulillah Ibukota di Kalimantan Timur.

Sinyal di mana ibukota baru bakal berlokasi masih menjadi tanda tanya. Presiden baru mengumumkan pada Rapat Terbatas pada akhir Agustus 2019. Yang pasti ibukota sudah pasti akan pindah ke Kalimantan. Dengan kepastian ini, pulau Kalimantan yang memiliki luas

Kementerian PPN/Bappenas menggelar Dialog Nasional Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Ke-4 yang mengangkat tema “Investasi dan Strategi Pembiayaan Pemindahan Ibu Kota Negara di Ruang Djunaedi Hadisumarto, Gedung Saleh Afiff, Kementerian PPN/Bappenas, Senin (16/9).

Dalam Pidatonya, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menegaskan bahwa Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur merupakan investasi yang lebih serius di luar Pulau Jawa dalam mengurangi kesenjangan ekonomi antar wilayah di Indonesia. Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya alasan kuat mengapa pembangunan di Pulau Kalimantan terus digenjot.

Pada zaman kolonial, Kalimantan juga disebut Borneo. Pulau ini menempati posisi ketiga pulau terbesar di dunia. Kalimantan di dalamnya terdapat wilayah Indonesia 73 persen, Malaysia 26 persen, dan Brunei 1 persen.

Secara lebih sempit, Kalimantan adalah wilayah yang berada di negara Indonesia. Letaknya di sebelah utara Pulau Jawa dan barat Sulawesi. Ada 5 provinsi yang terdapat di Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan yang terbaru Kalimantan Utara. Provinsi lahir dari pemekaran di wilayah Kaltim.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang rencana pengembangan wilayah Kalimantan, seperti dikutip detikFinance di Jakarta, Selasa (16/5/2017), pulau ini hanya merasakan sebagian kecil pertumbuhan ekonomi Indonesia secara nasional.

Dengan luas daratan mencapai 74,33 juta hektare atau hampir 6 kali luas Pulau Jawa yang hanya 12,82 juta hektar, Kalimantan hanya merasakan sekitar 8,15% sebaran ekonomi nasional. Kalah jauh dari Pulau Jawa yang mencakup 58,29% dan Sumatera 22,21% dari total pertumbuhan ekonomi nasional.

Padahal, Kalimantan menyumbang pendapatan negara yang cukup besar terutama dari sektor pertambangan. Untuk itu lah, berbagai proyek infrastruktur digenjot pemerintah sejak akhir tahun 2014.

Pemindahan IKN di Kalimantan diperkirakan memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Dampak langsung, penambahan aktivitas ekonomi melalui investasi pemerintah untuk pembangunan infrastruktur pendukung dan operasional penyelenggaraan pemerintahan di lokasi baru akan menggerakan perekonomian.

Dampak tidak langsung yaitu dampak second round effect yang terjadi karena adanya efek pengganda terhadap perekonomian, sehingga menimbulkan penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, penambahan pendapatan masyarakat. Sehingga total dampak pemindahan IKN akan memberikan kontribusi pertumbuhan PDB/ pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Seperti yang dikatakan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia Bambang Brodjonegoro pemindahan IKN akan memberikan dampak ekonomi positif yang akan dirasakan tidak saja pada jangka pendek, tetapi juga pada jangka panjang.

Jangka Pendek yaitu pada fase konstruksi yang tentu jumlahnya tidak kecil. Pada fase ini, investasi infrastruktur utama dan penunjang akan menciptakan lapangan pekerjaan, suplai bahan material dalam proses pembangunan ibu kota yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan perdagangan antar wilayah di Kalimantan dan sekitarnya.

Sedangkan Jangka menengah – panjang yaitu fase operasionalisasi Ibu Kota baru dan peningkatan aktivitas ekonomi antara lain peningkatan jasa pemerintahan dan sektor non tradisional, peningkatan produktivitas, penurunan kesenjangan antar kelompok pendapatan antar wilayah.

Jantung Kalimantan

Dengan ditetapkannya ibukota baru di Kalimantan, maka sejatinya kini ada dua “Jantung” di bumi Borneo ini. Kalimantan sebagai jantung ibukota. Dan Kalimantan sebagai “Heart of Borneo”.  

Di kawasan jantung Kalimantan sebagian masih natural. Dan sebagai pulau terbesar ketiga di dunia, di  Kalimantan memiliki wilayah hutan tropis yang di dalamnya terdapat sekitar 6 persen  keanekaragaman hayati dunia.

Spesies flora dan fauna mencapai ribuan variasi. Termasuk bunga raflesia. Dan beberapa fauna yang hanya dapat ditemukan di pulau ini. Seperti orangutan, gajah borneo yang tubuhnya kerdil atau terkecil di dunia. Ada kera proboscis.

Dialog tentang IKN di Balikpapan.


Asisten Deputi Tata Kelola Kehutanan, Kementerian Koodinator Bidang Perekonomian, Dr. Prabianto Mukti Prabowo pada suatu kesempatan peluncuran Visit “Heart of Borneo” mengatakan selain keanekaragaman hayati, kawasan Jantung Kalimantan merupakan sumber kehidupan bagi sekitar 1 juta masyarakat adat.

“Mereka setia pada kearifan lokal dalam pengelolaan hutan, dan melakukan praktek pembangunan berkelanjutan. Area ini sangat kuat di sisi budaya lokal dari masyarakat adat.”

Masyarakat adat di Kalimantan, antara lain suku Dayak dan suku Melayu, sangat berpegang teguh pada kepercayaan mereka. Menjaga dan mengelola hutan secara bijaksana adalah hal yang mereka pegang teguh.

Hadirnya ibukota negara di Kalimantan memiliki harapan besar terhadap terjaganya hutan. Eksploitasi tanpa kendali di hutan Kalimantan, diharapkan dapat diredam. Sebab. Presiden bersama meteri-menteri serta institusi lainnya seperti TNI dan Polri bakal ikut mengawasi secara langsung. Tidak seperti sebelumnya, yang jauh dari Jakarta.

Kelak siapa pun Presidennya bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keadaan hutan Kalimantan. Tidak perlu harus blusukan. Karena sehari-hari akan banyak melewati hutan Kalimantan. Baik lewat darat, laut, maupun udara.

Untuk itu, kita bersama-sama TNI dan Polri menjaga Kaltim. Tetap aman, tetap kondusif. Kaltim tidak saja jadi barometer di Kalimantan. Penetapan IKN bagi Kaltim juga sebagai barometer keamanan secara nasional. Akankah kita bisa menjaga dua jantung di Kalimantan ini? (tri widodo)*

Penulis adalah jurnalis tinggal di Balikpapan.

Sumber: dari berbagai sumber, foto-foto dari bappenas.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ibukota Pindah, Awas Laut Dikapling-Kapling

Laut dikapling-kapling. Ada sertifikatnya. Asli. Paling tidak memang dari instansi berwena…