JIKA di lapangan himbauan itu diabaikan perusuh secara tak terduga seruannya justru bergabung di media sosial sekaligus mengundang respons positif dari warganet di media sosial.

Lewat tengah malam di suasana di sekitaran Kantor Badan pengawas pemilu di Jalan Thamrin Jakarta itu berubah menjadi mirip arena perang. Mencekam, karena belakangan perusuh menyusup pada demonstran dan memicu keberingasan.

Mereka mulai melempar aparat dengan batu tombak, petasan, hingga bom molotov.

Tak cuma itu, mereka juga menghamburkan Mulai dari ejekan umpatan hingga caci maki kepada polisi yang berlindung di balik tameng pelindung huru-hara.

Di sisi lain tak seberapa jauh dari barikade penghalau massa, asap hitam mulai membumbung dari ban-ban yang dibakar.

Bertolak belakang dengan perusuh semakin kalap dan mata gelap, pengeras suara justru terus mencoba meredam massa yang lebih besar agar tak terprovokasi penyusup yang memang meniatkan onar.

“Bantu kami, Polri dan TNI. Kami keluarga besar TNI-Polri juga bagian dari masyarakat. Tolong jangan provokasi kami. Tolong…” terdengar kalimat dari pengeras suara itu dengan nada rendah.

Itu adalah suara Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan dari atas mobil komando. Sementara matanya tak lepas dari para pengunjuk rasa, Harry terus memohon terus berteriak untuk mendinginkan suasana.

Ya, ketika masa mulai melempari aparat kepolisian yang membuat barikade Harry naik ke mobil komando,  mengambil pengeras suara lalu meminta koordinator lapangan aksi meredam emosi: Kami TNI dan Polri wartawan juga masyarakat sama seperti kalian jangan seperti ini pak ustad. tolong kami tenangkan masa. Abang korlap tolong kami jangan seperti ini.

Nada suaranya rendah dan mengajak.

Harry kembali meminta massa aksi juga tak terprovokasi dan bisa bekerja sama agar unjuk rasa itu selesai dengan tertib. Para perusuh itu memang tetap melempari polisi tapi pelan-pelan sedikit demi sedikit, frekuensi pelemparan itu mereda. “Kasihan ini ada wartawan kena, ini masyarakat juga, ini kawan kita. Teman-teman, aduh, jangan teman-teman”, kata Harry yang sesekali terlihat menunduk menghindar dari lemparan dari arah massa.

Kericuhan itu tak berlangsung lama, karena Hari juga meminta para tokoh agama dan koordinator aksi meredakan emosi para pendemo.

“Terima kasih pak ustad dan korlap.”  Suara Kombes Harry terdengar lagi melalui pengeras suara dari atas mobil pengurai massa. “Saya Kapolres Jakarta Pusat berterima kasih sudah bisa meredam masa.”

Saat itu sebenarnya para perusuh sempat membakar tenda yang berada di depan gedung Bawaslu. Dari berbagai video yang beredar di media sosial Hari yang mengenakan helm membuat pernyataan melalui pengeras suara untuk memohon agar masa tidak terpancing.

“Hati-hati jangan teman-teman.” Teriak Hari di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat seperti terlihat di salah satu video. Ia juga menekankan sekali lagi dalam teriakannya melalui pengeras suara: “Teman-teman Jangan teman-teman, jangan lakukan itu jangan!”.

Suasana pengamanan. (sumber: instagram)

Namun massa terus berbuat anarkis hingga terdengar suara kembang api yang menyala. Di titik itu terlihat Harry sedikit meneteskan air mata ketika memohon kepada ustad untuk menghentikan aksi yang sudah anarki ini.

” Pak ustad tolong bantu kami jangan disusupi orang-orang yang ingin aksi damai ini tidak menjadi pemberontak. Tolong bantu kami pak ustad.”

Jika di lapangan suara hari diabaikan perusuh, tak terduga seruannya justru bergaung di media sosial sekaligus mengundang respons positif dari warganet di media sosial. “Terima kasih the real hero. Semoga bisa segera berkumpul dengan keluarga tulis pemilik akun @fitrinurmalasr. “Polisi yang berhati seperti ayah,” ujar pemilik akun @Sayyid1900, “Berkah terus bapak Polri dan TNI,” tulis pemilik akun @bimrmdhn.

Pendekatan persuasif Harry itu memang menenangkan massa pengunjuk rasa saat itu ia juga menjamin tak akan menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa, selama tidak melanggar aturan.

Dari berbagai unggahan warganet di twitter setelah melihat video tersebut banyak yang bersimpati kepada para petugas yang sudah mengamati ibukota sejak 21 mei 2019. “Benar-benar ujian puasa untuk Polisi dan TNI. Semoga pahalanya berlipat-lipat ya,” tulis salah satu akun twittet @inzagolo9 pada 22 Mei 2019.

PERSUASIF

“Ya kalau kita gini polisi itu ada protapnya, tetapi ada juga kita dalam pelaksanaan tugas menggunakan hati nurani kita kita menyentuh dari aspek ataupun Sisi humanisme karena polisi sekarang itu kan salah satunya mengedepankan aspek Humanis” kata Harry di tempat yang sama dua hari kemudian Jumat 24 Mei 2019 lalu.

Harry menjelaskan dalam menjabat Kapolres ya harus bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat meskipun Dalam keadaan terdesak dengan membaca suasana hari menilai bantuan ustad yang juga merupakan koordinator lapangan massa dapat meredam kerusuhan saya akan lihat siapa komunitas kelompoknya dalam kelompok kelompok mayoritas seperti kemarin ada yang ditokohkan yang mayoritas kemarin kan tokohnya tokoh muslim saya juga orang muslim oh ada kelompok yang besar bahwa salah satunya ulama ustad, habaib itu yang ditokohkan sama seperti polisi yang dituakan di sini ada Kapolres tegas Harry.

“Makanya saya menyebutkan saya Kapolres Metro Jakarta Pusat beserta Dandim itu orang-orang yang dituakan kelompok masing-masing. Mereka pun seperti itu dengan kita menyebut seperti itu Saya yakin dan saya berikan jaminan kepastian mereka pasti akan menurut kepada kelompoknya” lanjut Harry.

Nyatanya, upaya hari meminta bantuan kepada ustaz membuahkan hasil terbukti setelah itu masa mulai bergerak mundur sehingga polisi dapat segera mendinginkan suasana.

Makanya perilaku orang-orang yang nggak menurut sama komandannya, ustad nya, habibnya itu berarti orang yang berniat itu untuk mencederai situasi yang kemarin damai akhirnya mereka terpisahkan dengan alamnya yang memang tidak ikut mereka musuhnya itu kita tangkap, gitu,” tutur Harry.

Meski begitu Harry mengaku tidak begitu kenal dengan sosok Ustaz yang ia minta untuk menenangkan suasana namun ia selalu berupaya untuk mendekatkan diri dan mengenal kepada tokoh-tokoh setempat.

Peneliti di pusat kajian komunikasi UI, Clara Endah Triastuti, Meme atau video-video soal polisi yang beredar bukanlah sesuatu yang tiba-tiba berdiri sendiri atau berlebihan.

Bahkan, menurutnya, kemunculannya bisa ditelusuri ke belakang, dari mulai saat Pemilu, hitung cepat, narasi “kecurangan KPU” sampai saat muncul wacana “people power”.

“Karena kita dikelilingi oleh media kita tidak bisa menghindari untuk tidak mengonsumsinya. Narasi ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama sebulan terakhir yang merupakan bagian dari cerita kita. Ini bagian dari cerita yang terus disampaikan dari sejak Pemilu sampai hari ini,” kata Clara seperti dikutip BBC.

Yang menarik, menurut Clara, terdapat juga narasi-narasi di media sosial yang membandingkan aksi masa sekarang dengan yang terjadi pada 1998. Misalnya terdapat narasi, pada 1998 pendemo membagikan minuman pada mahasiswa, di tahun 2019 pendemo membagikan minuman pada polisi.

“Justru trending-nya video polisi menjadi Meme ini memperlihatkan kan bahwa mungkin ada demo sama dengan 1998, mungkin ada anarkisme tetapi pemerintah ada di pihak yang berbeda. Dan ini menunjukkan masyarakat pintar, bahwa mereka tak sekedar “masyarakat benci pemerintah atau masyarakat benci polisi nggak gitu tapi dengan membagikan meme masyarakat juga menunjukkan keberpihakannya,” kata Clara.

Meski ada masyarakat yang benar turun ke jalan dan memberi makanan atau minuman pada polisi namun dengan membagikan video atau Meme soal polisi yang bertugas pada 2-22 Mei 2019 dan membandingkannya dengan Avengers, masyarakat seperti membela polisi dengan cara aktivisme klik “Mungkin akan berlanjut nggak? Mungkin saja. Mungkin Terganti dengan yang lain banyak share Ya enggak? mungkin saja. Storytelling itu susah dipotong, saya lebih melihat ini sebagai cerita yang tersusun berlanjut di media sosial. (tri widodo)

Diambil dari berbagai sumber.