Oleh Amrul *

Permasalahan pengelolaan sampah di sejumlah daerah di Indonesia, selalu menjadi masalah besar disetiap wilayah, termasuk Kabupaten Paser. Dengan luas wilayah 10 kecamatan, 5 kelurahan dan 139 desa. Hanya ada 2 Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yakni di Kecamatan Tanah Grogot Kilometer 7 dan Batu Sopang. Itupun yang di Batu Sopang milik perusahaan pertambangan setempat.

Saat ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser selaku instansi yang berwenang menangani sampah, masih kewalahan dengan besarnya volume sampah rumah tangga maupun aktifitas lainnya setiap hari. Jumlah petugas yang belum sebanding dengan produksi sampah yang setiap hari dihasilkan, Kesadaran masyarakat mengenai 3R(Reduce) mengurangi penggunaan bahan
bahan yang bisa merusak lingkungan, (Reuse) pemakaian kembali dan (Recycle) mendaur ulang, yang masih minim serta belum adanya teknologi yang canggih seperti di daerah/negara maju untuk mengolah sampah dengan tepat.

Luas wilayah Paser sekitar 11.606 kilometer persegi, dari jumlah penduduk 281.006 jiwa, ada sekitar 140 ton sampah dalam sehari yang dihasilkan, 60 persen diantaranya sampah organik dan 40 persen sampah Non organik.

Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk tiap tahunnya sekitar 2,48 persen. Sehingga sampah bisa dikelola petugas hanya 39 persen atau 53 ton per hari. Masih ada 85 ton sampah yang
yang belum bisa dikelola setiap harinya. Bayangkan saja jika dikali sebulan atau setahun, tentu ini bukan hal yang sepele karena berhubungan dengan lingkungan kita. Jika gagal dalam pengelolaan sampah akan merusak lingkungan dan akan berimbas pada kesehatan warga.

Dengan adanya Bank Sampah Mahabah dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R (Reduce Reuse, Recycle) yang masih di kecamatan Tanah Grogot saja, hanya mampu mereduksi pengurangan
sampah 483 ton per tahun ditambah adanya pihak swasta yang mengepul dapat membantu meresidu 851 ton per tahun.

Kecamatan Tanah Grogot menjadi daerah penyumbang produksi sampah terbesar tiap harinya dengan angka 36 ton dari jumlah penduduk 72.784 jiwa, diikuti Long Ikis sebesar 20 ton perhari. Bahkan untuk kecamatan di luar Grogot seperti Kuaro, Long Ikis sampai ke Long Kali, setiap harinya sampah tersebut harus di distribusikan ke Tanah Grogot ke TPA di Km 7.

Kita perlu solusi untuk dan pengurangan sampah yang paling tepat menurut saya
penanganan ialah dengan memperbanyak TPS 3R di setiap Desa dan Bank Sampah yang dikelola oleh masyarakat. Selain itu pula kedepan di TPA harus mempersiapkan Teknologi yang canggih untuk mengelola sampah lebih cepat, lebih tepat dan efisien.

Kita bisa mencontoh Kota Surabaya yang sukses dalam pengelolaan sampah, dengan TPS3R dan Bank Sampah, Masyarakat akan belajar mengelola sampah lingkungan terdekatnya, termasuk bisa memilah mana sampah yang bisa dimanfaatkan kembali dan yang dibuang Seperti sampahbplastik, selama ini jenis sampah ini lah yang menjadi musuh dalam isu perubahan iklim dan lingkungan. Di negara maju, pemakaian bahan plastik sudah di minimalisir khususnya pada produk makanan.

Dengan TPS 3R menghasilkan produk sampah berupa pupuk, kompos dan bahan kımia lainnya yang bisa bemanfaat. Sedangkan Bank Sampah mengembangkan produk sampah yang bisa didaur ulang agar menjadi barang bernilai, seperti tas, dompet bantal dan lainnya yang terbuat dari plastik dan kertas sisa sampah.

Saya berharap ke depan pemerintah daerah bersama stakeholder lainnya, mendukung penuh diperbanyaknya TPS 3R yang didalamnya dikelola langsung oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) kelurahan atau desa sekitar.

Selain mengedukasi warga, ini juga bisa menjadi wadah pekerjaan bagi warga dan juga ladang amal tentunya menjaga kebersihan, Contoh TPS 3R di Desa Tapis, di sana sampah warga sudah bisa dijemput di rumah masıng-masing dan hasil sampahnya langsung diolah di desa tersebut.

Kesadaran kita terhadap kebersihan lingkungan sangat penting jika tidak bisa mengajak orang lain untuk mengelola sampah paling tidak untuk diri kita sediri mencontohkannya dan membiasakannya.” Kebersihan sebagian dari Iman”

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Terbuka Program Studi Administrasi Negara Kelompok Belajar Tanah Grogot