TANA PASER, Gerbangkaltim.com – Rencana masuknya PT Lunto Bioenergi Prima, perusahaan batu bara di Batu Sopang Kabupaten Paser, mendapat respon dari Direktur Sentra Program Pemberdayaan dan Kemitraan Lingkungan (Stabil) Jufriansyah.

Ia menilai Desa Rantau Buta dan Kasungai, lokasi yang akan menjadi eksplorasi batu bara tersebut, merupakan lokasi yang memiliki nilai konservasi tinggi (NKT).

Jika terdapat operasi tambang di wilayah tersebut, ini dapat merusak Daerah Aliran Sungai (DAS) Kasungai.

Bila ada kegiatan pertambangan batu bara, maka dipastikan kerusakan DAS Kasungai akan terjadi. Padahal masyarakat menganggap sungai sebagai ‘ibu’ dari seluruh aktivitas kehidupan.

“Desa Rantau Buta dan Kasungai merupakan desa secara lanskap memiliki NKT, berdasarkan hasil riset tim PPIG Unmul dan TNC Kaltim,” kata Jufriansyah saat dihubungi, Selasa (17/12).

“Air sungai itu untuk air minum, cuci, MCK dari Rantau Buta menuju Desa Rantau Layung. Sedangkan saat ini Sungai Kasungai masih jernih airnya, belum ada pencemaran,” jelas Jufriansyah.

Apalagi, lanjut ia, masyarakat Kalimantan sangat menghargai hutan sebagai kawasan yang harus dilindungi. Meski tidak semua hutan di Paser merupakan hutan adat, namun masyarakat masih menjunjung tinggi hutan adat yang masih terpelihara kelestariannya.

“Ingat, masyarakat masih menghormati hutannya walaupun belum ditetapkan sebagai kawasan hutan adat,” kata dia.

“Tapi hasil dari hutan seperti rotan, kayu, bisa digunakan masyarakat untuk bangunan perumahan sendiri. Begitu pun masyarakat yang masih suka berburu, dengan kenakeragaman hutan yang kaya,” imbuhnya.

Keberadaan perusahaan, lanjut Jufriansyah, juga akan berdampak pada perubahan ekonomi dan sosial lain. Masyarakat setempat yang berprofesi sebagai petani, kebiasaan tersebut akan hilang.

“Belum lagi perilaku perusahaan yang menawarkan lapangan tenaga kerja. Mereka akan lupa bagaiaman melestarikan hutan, menanam rotan, menanam padi yang selama ini sudah menjadi pekerjaan warga setempat,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan perusahaan akan berdampak pada budaya warga setempat.

Seperti diketahui, PT Lunto Bioenergi Prima, sebuah perusahaan batu bara, akan beroperasi di wilayah Batu Sopang yang meliputi 4 desa yakni Desa Rantau Buta, Kasungai, Sungai Terik dan Batu Kajang. Perusahaan tersebut akan beroperasi di lahan seluas 2.339,8 hektar.

Menurut Kepala Bidang Tata Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Paser Risma, perusahaan tersebut saat ini sedang menyusun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Sedang disusun dokumen Amdal-nya. Ini syarat sebelum beroperasi. Tapi penyusunan dokumen Amdal prosesnya masih panjang,” ucap Risma. (Tim GK)