TANA PASER, Gerbangkaltim.com – Tidak banyak yang tahu tentang budaya Sayyang Pattu’du, khas suku Mandar Sulawesi Barat. Namun penampilannya di acara pawai budaya HUT ke-60 Kabupaten Paser akhir 2019 lalu cukup menarik perhatian masyarakat.

Tak tanggung-tanggung, Kerukunan Keluarga Besar Mandar (KKBM) Kabupaten Paser, langsung mendatangkan dua ekor kuda untuk memeriahkan hari jadi Paser yang jatuh pada 29 Desember 2019 lalu.

Memang secara harfiah Sayyang Pattu’du berarti Kuda Menari, berasal dari kata Sayyang yang berarti Kuda dan Pattu’du berarti menari. Jadi, penampilan tariannya pun harus menghadirkan kuda sungguhan.

“Ini adalah salah satu budaya khas Mandar yang dilaksanakan pada waktu tertentu saja seperti acara tamatan Alquran dan acara pernikahan “ kata Alhabib, Ketua Panitia pawai budaya dari KKBM Paser.

Dalam tarian budaya ini, seekor kuda menari dengan diiringi musik rebana. Jika musiknya berhenti, berhentilah pula tarian si kuda.

Iringan musik rebbana membuat dua kuda yang ditampilkan KKBM terus menari mengikuti irama tabuhan gendang yang dimainkan parawwana, sebutan untuk pengiring musik.

Alhabib mengatakan, pagelaran yang ditampilkan tersebut merupakan bentuk partisipasi dan apresiasi KKBM kepada Pemerintah dan masyarakat, dalam menyemarakkan hari jadi Kabupaten Paser.

“Selain dari pada itu juga, dengan keberadaan kami di Paser, kami berharap bisa memberi warna baru dalam memperkaya seni budaya lintas etnis yang ada di Kabupaten Paser ” kata Alhabib.

Menurutnya Sayyang Pattu’du merupakan rangkaian puncak bagi orang yang telah menamatkan Alquran, dikenal adanya upacara diarak keliling kampung dengan menaiki Sayyang Pattu’du atau Kuda Menari,dan kuda yang digunakan sudah terlatih dan lihai dalam menari.

Budaya Sayyang Pattu’du lanjut Alhabib, ini adalah kali pertama ditampilkan di Kalimantan Timur khususnya di Paser dan Kuda-kuda tersebut didatangkan dari Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat.

“Sayyang Pattu’du baru kali ini ditampilkan di Paser, kuda yang digunakan adalah bagian dari kelompok kuda yang pernah tampil di istana negara “ ujar Alhabib.

Alhabib menuturkan warga sangat antusias dengan adanya pagelaran budaya Sayyang Pattudu yang digelar pada pawai kebuadayaan, Sabtu (28/12) lalu itu dalam rangka hari jadi ke-60 Kabupaten Paser.

“Selama dalam karnaval sejumlah warga banyak mendokumentasikan, dan berswafoto dengan kuda-kuda tersebut “ tuturnya.

Menyikapi  beberapa tanggapan dari warga serta evaluasi tambahnya, kedepan kami berencana akan datangkan kembali kuda dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Serta budaya-budaya mandar lainnya.
Dengan partisipasi kami menyemarakkan hari jadi Kabupaten Paser ini, dapat memberi manfaat dalam memajukan seni dan budaya di Paser.

“Semoga kegiatan-kegiatan ini akan memberikan nilai positif untuk perkembangan seni dan budaya di Kabupaten Paser “ harapnya. (Asm/Jya)