oleh: Muhammad Solihin, S.Pd

Tentu kalian masih ingat judul lagu “Nenekku Pahlawanku” yang dipopulerkan Wali band di tahun 2011. Ternyata judul lagu itu tidak relevant  bagi siswa yang tinggal bersama kedua orang tuanya di masa pandemi ini.

Emang apa hubungannya lirik lagu Wali Band dengan pandemi Covid-19?

Akibat Covid-19, berbagai aktivitas kehidupan banyak dilakukan di rumah. Virus ini mengungkung kehidupan masyarakat.

Masyarakat tidak berani keluar rumah lantaran takut terpapar virus yang konon mematikan itu. Tak pelak, banyak orang merasa mendadak mendapat beban tambahan dalam kehidupan. Mereka harus bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari saat perekonomian semakin lesu.

Semua sektor kehidupan mengalami perubahan, tidak terkecuali dunia pendidikan. Pemerintah mengambil kebijakan untuk meliburkan para siswa belajar secara formal di sekolah. Maka solusi pemerintah adalah memindahkan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah. “Belajar Dari Rumah (BDR)”.

Terbitnya surat edaran dari mas menteri pendidikan dan kebudayaan (Nadiem Makarim) No.4 Maret 2020 mengatur pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19. Upaya ini dilakukan Pemerintah untuk pembatasan fisik (physical distance) yang bertujuan memutus mata rantai penyebaran virus di negeri ini.

Tantangan Pendidikan di masa Covid-19

Di awal penerapan belajar dari rumah tentu disambut dengan suka cita oleh siswa, guru, dan orang tua. Siswa merasa senang mempunyai waktu longgar untur libur dirumah bisa banyak bermain. Guru merasa bahagia bisa punya waktu berhenti sejenak dari rutinitas mengajar di sekolah, dan para orang tua merasa tidak direpotkan untuk mengantar-jemput anak mereka ke sekolah.

Namun, berjalanya waktu, ternyata belajar dari rumah menimbulkan permasalahan baru, baik bagi siswa, guru dan orang tua. Para siswa merasa tidak nyaman belajar dengan sistem jarak jauh, karena mereka tidak dapat berinteraksi langsung dengan guru. Mereka juga merasa tertekan dengan begitu banyak tugas-tugas yang dijejali dari sekolah.

Para guru pun merasa kebingungan, bagaimana cara mengajar dengan sistem dalam jaringan (daring) yang baik dan benar. Tak ayal yang dilakukan guru hanya memberi tugas menggunakan via SMS atau WA tanpa memberikan penjelasan materi ajar. Di awal penerapan sistem belajar dari rumah banyak para guru yang gagap teknologi.

Dari pihak orang tua pun mengalami kendala yang sama karena harus menghabiskan waktu untuk mendampingi anak mereka belajar di rumah.

Apakah belajar dari rumah efektif?

Ternyata penerapanya tidak berjalan maksimal seperti yang diharapkan mas menteri pendidikan. Dalam pelaksanaanya masih mengalami beberapa hambatan, antara lain:

  1. Para siswa memiliki keterbatasan computer/laptop/gadget;
  2. Akses internet yang tidak dapat menjangkau semua daerah;
  3. Masih mahalnya biaya untuk mengakses internet;
  4. Aksen internet ada, tapi terkadang lemah signalnya;
  5. Tidak memiliki akses listrik didaerah tertentu.

Sehingga permasalahan-permasalah yang ada, berdampak pada tidak meratanya akses pembelajaran dalam jaringan dari rumah.

Walaupun begitu, beban siswa dan guru ringan dengan adanya intervensi Tanoto Foundation menggelar pelatihan jarak jauh agar guru dan siswa dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran daring.

Peran Ibu Mendorong Adaptasi

Siapa sih sebenarnya yang bertanggung jawab mendampingi anak belajar di rumah?

Kedua orang tualah yang memiliki peranan penting dalam pendampingan buah hatinya. Namun, kenyataannya. Sosok ibulah yang lebih banyak meluangkan waktu untuk mendampingi anak mereka belajar dari padah ayah.

Ibu bisa 2-3 jam mendampingi anaknya belajar dirumah, seperti:

1.      Berkomunikasi dengan guru sekolah

2.      Mendampingi proses belajar anak

3.      Membantu anak memahami materi dan

4.       menyediakan perlengkapan atau keperluan pembelajaran.

Jika peran seorang ayah diibaratkan sebagai nahkoda di dalam kapal pesiar, Maka peran ibu adalah sebagai seorang navigasi, petunjuk arah. Ayah sosok yang bertanggung jawab penuh atas keluarga yang dipimpinya. Bertugas membawa kemana kapal akan berlayar.

Namun, sosok ibu tidak kalah penting peranannya. Ia bertugas sebagai petunjuk arah agar kapal tidak tersesat dan kehilangan arah tujuan. Maka, di masa pandemi ini, harusnya judul Wali band digubah menjadi “Ibuku Pahlawanku” bukan “Nenekku Pahlawanku”.

Ada ungkapan “Al-Ummu Madrasah Al-ula” artinya ibu adalah madrasah pertama bagi buah hatinya. Ungkapan tersebut tentulah tidak salah. Karena semenjak anak terlahir di dunia, ibulah yang begitu sabar mendidik anak-anaknya.

Sangatlah pantas jika dikatakan bahwa seorang ibu merupakan “guru sejati”. Ia adalah sosok guru yang pertama kali memperkenalkan warna, huruf bahkan mungkin angka-angka. Ibu pula yang mengajarkan bagaimana anak berjalan, berbicara, membaca, menulis dan masih begitu banyak pengalaman belajar yang telah diajarkan untuk buah hatinya.

Menciptakan generasi unggul dari rumah

Keberhasilan dalam belajar dari rumah (BDR) memerlukan partisipasi orang tua karena guru tidak dapat hadir secara fisik. Untuk itu, kesadaran akan pentingnya proses BDR harus ditanamkan sejalan dengan meningkatnya kapasitas guru dan siswa lihai menggunakan aplikasi-aplikasi penunjang BDR.

Ini peluang yang dapat diambil oleh orang tua karena Covid-19 ini membawa dampak positif bagi keharmonisan keluarga. Kondisi ini merupakan kesempatan berharga untuk menguatkan kembali hubungan komunikasi secara terbuka melalui pembelajaran dari rumah. Orang tua dapat menjadi pendengar yang baik serta dapat mengetahui dan memahami seberapa jauh perkembangan pendidikan bagi anak-anaknya.

Sikap keteladanan orang tua sangat dibutuhkan sekali bagi perkembangan anak. Anak adalah peniru yang handal. Mereka akan meniru apa yang dilihat dan dilakukan oleh lingkungan dan orang terdekatnya. Maka bagi orangtua, tunjukanlah keteladanan yang baik. jadilah pendengar setia, dengan memberikan kasih sayang dan penghargaan bagi si buah hati.

*Penulis adalah Kepala Sekolah MTs Istiqamah Long Ikis