PASER, Gerbangkaltim.com – Pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan di masa pandemi Covid-19. Dalam pembelajaran secara daring (online) ini memiliki kendala baik yang dirasakan guru maupun siswa.

Bagi Dewi Markiah, seorang guru SMP Muhammadiyah Tanah Grogot, kendala itu tidak membuatnya berhenti berkreativitas dalam memberikan pembelajaran. Ada motivasi yang ia tetap harus berikan kepada siswa-siswanya.

“Di dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), kewajiban saya tidak hanya memberikan pembelajaran, tetapi juga motivasi terus menerus kepada siswa-siswa saya,” ungkap Dewi Markiah, Selasa (28/07/2020).

Dalam pembelajaran jarak jauh, ia memiliki tantangan untuk mengajarkan struktur bumi secara daring. Sebab biasanya materi itu dilakukan secara tatap muka, dan membutuhkan praktek langsung.

Dewi menjelaskan metode yang ia pakai, yang ia namakan “peta pikiran”, sebuah metode mencatat kreatif untuk memudahkan siswa mengingat dan memahami banyak informasi.

Peta pikiran merupakan proses memetakan pikiran dengan menghubungkan konsep permasalahan tertentu dari cabang membentuk kolerasi konsep menuju suatu pemahaman dan hasilnya dituangkan langsung untuk mudah dimengerti.

Caranya, Dewi membagi rekaman video terkait materi struktur bumi dan dinamika. Rekaman tersebut berisikan power point menggunakan suara Dewi. “Saya menggunakan suara saya agar siswa merasa bersama saya di kelas,” ungkap Dewi.

Dalam video tersebut, siswa diminta mengamati buah melon dan menganalogikannya sebagai bumi. Lalu, Dewi meminta siswa untuk membelah melon tersebut. “Apakah bagian luar melon sama dengan bagian dalamnya?” tanya Dewi.

Dengan seksama, para siswa mengamati lapisan melon tersebut. “Bagaimana dengan lapisan-lapisan atmosfer, apakah juga berlapis-lapis seperti lapisan dalam bumi?” tutur Dewi.

Siswa menemukan jawaban lapisan atmosfer pada video Dewi. Siswa menuangkan lapisan atmosfer dan karakter atmosfer dalam peta pikiran. Sehingga siswa mampu menuangkan pemahamannya. Peta pikiran ini mempermudah siswa lain untuk memahami materi secara cepat. Siswa akan lebih fokus pada poin penting dan kesimpulan inti.

Awalnya siswa menentukan tema utamanya yaitu termosfer. Kemudian siswa tersebut menentukan karakter dari termosfer sebagai cabang tema utama, yaitu definisi termosfer, karakteristik, fungsi, dan bagaimana terbentuknya. Setelah menentukan cabang tema utama, siswa mencari referensi melalui internet dan diskusi bersama orang tua dan guru melengkapi informasi-informasi yang kosong.

Kemudian, siswa mengumpulkan foto hasil peta pikiran. Setelah itu, Dewi memberikan umpan balik ke siswa.

Setelah selesai membuat mind maaping tentang lapisan atmosfer, siswa diharap bisa memahami materi dan mengetahui lapisan lapisan atmosfer.

Metode ini menurut Dewi cukup membantu siswa kelas VII yang diajarnya untuk memahami materi struktur bumi dan dinamikanya.

“Tujuannya agar siswa mampu mendeskripsikan lapisan atmosfer dengan peta pikiran, sehingga ada interaksi aktif antar guru dan siswa,” ucap Dewi. (Jya)